Bejat! Bapak di Banyuwangi Cabuli Anak Tiri Seminggu Sekali Hingga Hamil

oleh -

Banyuwangi, ArahJatim.com – Kasus cabul melibatkan sesama anggota keluarga kembali diungkap oleh Tim Satreskrim Polresta Banyuwangi. Kali ini pelakunya adalah SM (46) warga Kecamatan Giri, Banyuwangi.

Sebagai orang tua, bukannya mengayomi, SM malah tega mencabuli anak tirinya yang masih berusia 16 tahun hingga hamil delapan bulan. Perbuatan tak senonoh pelaku ini terungkap setelah istri pelaku melaporkan aksi bejat sang suami yang tega menghamili anaknya sendiri kepada pihak kepolisian.

Di hadapan penyidik, pelaku mengaku tega mencabuli anak kandung dari istrinya tersebut lantaran tidak tahan melihat kemolekan tubuh anak tirinya yang kian hari kian tumbuh dewasa. Aksi bejat pelaku ini ternyata sudah dilakukan berulang kali sejak bulan Februari tahun lalu saat sang istri bekerja di luar rumah.

Baca juga:

Sukses melancarkan aksi pertamanya, pelaku semakin ketagihan dan selalu minta jatah kepada anak tirinya agar melayani nafsu bejatnya sekali dalam sepekan. Di tiap kesempatan, perbuatan tak senonoh ini selalu berjalan mulus.

Karena korban diminta untuk tutup mulut dan pelaku menjanjikan akan tanggung jawab jika korban hamil. Namun nyatanya, hingga korban hamil delapan bulan pelaku tidak peduli, hingga akhirnya sang istri mendesak anaknya untuk mengungkapkan siapa ayah biologis janin di dalam kandungannya.

Selain mengamankan pelaku, polisi juga menyita barang bukti berupa sprei tempat tidur serta beberapa lembar baju milik pelaku dan korban yang digunakan keduanya saat beradegan ranjang.

“Kasus terungkap berkat adanya laporan masyarakat. Korban adalah anak tiri dari pelaku. Sudah dilakukan sejak bulan Februari lalu selama setahun terakhir ini. Hasil penyelidikan, aksi cabul ini dilakukan pelaku seminggu sekali saat istrinya keluar rumah untuk bekerja. Hingga saat ini korbannya hamil delapan bulan,” ungkap Kombes Pol Arman Asmara Syarifuddin, Kapolresta Banyuwangi, Jumat (8/5/2020) siang.

Atas perbuatannya, polisi menjerat pelaku dengan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak yang ancaman hukuman maksimalnya mencapai sepuluh tahun penjara. (ful)