Polresta Banyuwangi Bongkar Sindikat Pembuatan Dokumen Palsu

oleh -
https://live.staticflickr.com/65535/49626769152_7e0939c8bb_b.jpg

Banyuwangi, Arahjatim.com – Kepolisian Resort Kota (Polresta) Banyuwangi membongkar sindikat pembuatan dokumen palsu dengan mengamankan enam orang diduga sebagai pelakunya. Dari enam pelaku yang diamankan empat diantaranya laki-laki berinisial, SG, MA, MH, HK, dua orang perempuan, S, dan RP. Ironisnya, dari enam yang diamankan satu orang adalah oknum pegawai negeri sipil (PNS) berinisial SG.

Kapolresta Banyuwangi Kombes Arman Asmara Syarifuddin mengungkapkan, terbongkarnya kasus sindikat pembuatan dokumen palsu berawal diamankannya, SG yang hendak mengubah KTP pada 3 Februari 2020 lalu dengan tujuan agar bisa keluar masuk hotel. Tersangka SG menemui MA untuk meminta tolong ke MH di Jember agar membuatkan KTP asli tapi palsu (aspal).

“Pelakunya enam orang satu diantaranya oknum PNS inisial SG. Pengungkapan kasus dimulai pada 3 Februari 2020 lalu, berawal dari diamankannya SG yang ingin mengubah identitas dengan tujuan agar mudah keluar masuk hotel. SG menghubungi MA, yang sebelumnya pernah bercerita bahwa temannya MH di Jember bisa membuat e-KTP,” ungkap Kapolresta Kombespol Arman Asmara Syarifudin kepada sejumlah wartawan termasuk Arahjatim.com, Jumat (6/3/2020) siang.

Arman menambahkan, atas cerita tersebut, MA menghubungi MH di Jember. Kemudian MH menemui S agar membuatkan KTP pesanan pemohon dengan biaya yang sudah ditentukan yaitu sebesar Rp 200.000. Setelah mendapat pesanan, S  menemui HK untuk membelikan material e-KTP bekas di salah satu instansi di Jember seharga Rp 10.000 per lembar.

Setelah memperoleh material yang dibutuhkan, S langsung menemui RP yang berperan mencetak e-KTP aspal untuk mengganti identitas kependudukan sesuai permintaan. KTP aspal tersebut juga diberi tanda tangan yang sudah diseting di perangkat komputer milik RP untuk selanjutnya dicetak.

Tidak hanya itu, KTP aspal tersebut juga diberi stempel sesuai wilayah pemohon, dengan dalih seolah-olah KTP dikeluarkan oleh Dispendukcapil setempat. Setelah jadi, S memberikan imbalan uang sebesar Rp 50.00 kepada RP.

“Dari keterangan para pelaku, sindikat pembuatan KTP palsu ini sudah berlangsung delapan bulan lebih. Melibatkan banyak orang, satu orang pelaku perempuan inisial RP sebagai operator atau yang mencetak KTP. Ada banyak stempel sesuai wilayah pemohon, sehingga kesannya dicetak oleh Dispenduk setempat,” tambah Kapolresta.

Dalam pengungkapan kasus tersebut polisi juga mengamankan sejumlah barang bukti ratusan dokumen palsu seperti, Kartu Keluarga (KK), Akta Cerai, Surat Keterangan, ljazah, Akta Kelahiran, KTP asli yang sudah habis masa berlakunya, satu perangkat komputer dan printer, serta 30 buah lebih stempel.

Atas perbuatannya, keenam pelaku akan dijerat pasal 96 A UU RI No. 24 Tahun 2013 tentang Perubahan atas UU RI No. 23 Tahun 2006 dengan ancaman hukuman 10 Tahun kurungan penjara. (ful)