Perubahan Cukai Rokok Dan Berbagai Permasalahannya

oleh -
Simplifikasi cukai rokok

Surabaya, ArahJatim.com – Cukup jenuh rasanya terus-menerus mendengar stigma negatif yang menimpa rokok. Dimulai dari rokok membunuhmu, rokok berbahaya bagi kesehatan, rokok adalah sumber segala penyakit. Rokok seakan didiskreditkan menjadi lumbung segala masalah kesehatan yang terjadi di masyarakat Indonesia. Entah mengapa rokok menjadi begitu dibenci dan disosialisasikan sebagai hal yang sangat berbahaya oleh pemerintah. Padahal industri kretek yang berkembang di Indonesia menjadi salah satu penyumbang cukai terbanyak untuk negeri ini.

Ironisnya, pemerintah akan menaikkan cukai tembakau sesuai peraturan terbaru. Pihak Kemenkeu akan mengacu pada PMK terbaru (Peraturan Menteri Keuangan Nomor 152/PMK.010/2019). PMK ini, praktisnya, peraturan yang menjelaskan tentang kenaikan tarif cukai industri hasil tembakau berdasar jenis dan golongannya. Berdasar hal itu, harga jual eceran rokok pun akan naik sebesar 35%, jauh lebih tinggi dari tahun-tahun sebelumnya.

Jika memang PMK tersebut untuk menekan konsumsi rokok yang berlebih pada masyarakat, mengapa hal ini harus dilakukan. Bukankah penekanan yang terjadi akan mengurangi cukai hasil tembakau untuk negara? Kerugian selanjutnya berdampak pada produsen-produsen kecil yang tak cukup memiliki genggaman pasar yang luas di masyarakat. Gulung tikar atau menjual saham menjadi dua hal yang harus terjadi. Toh bukankah ini akan terus berdampak pada para pekerja yang harus di-PHK akibat cukai yang terus melambung.

Diskriminasi produk terus dirasakan oleh produsen rokok dan para konsumen dengan suara pemerintah yang begitu lantang dan tiada henti untuk menjadikan rokok sebagai kambing hitam dari segala macam penyakit. Padahal jika ditelusuri lebih jauh, produk seperti halnya penambah stamina dan produk kesehatanpun tak luput dari efek membahayakan jika dikonsumsi secara masif dan terus-menerus. Organ tubuh seperti jantung, ginjal, dan organ tubuh lain akan terkena dampak yang cukup signifikan akibat mengkonsumsi barang yang tidak dianggap berbahaya oleh pemerintah tersebut.

Parahnya lagi, MUI sebagai pemilik legalitas label halal di Indonesia turut serta dalam membangun opini masyarakat tentang rokok. Tanpa label halal seperti halnya produk lain yang sejatinya tak lepas dari efek bahaya selama ini bebas beredar dan memiliki label halal di pasaran. Dan tentunya tanpa tulisan produk ini membunuhmu! Tidak ada, yang ada hanya tulisan aman untuk dikonsumsi setiap hari!

Sementara itu, para petani yang bergelut di bidang perkretekan Indonesia terus saja berkeluh kesah jika cukai untuk rokok terus naik. Pasar jual dan cukai yang harus dibayar tak sesuai dengan penghasilan yang mereka dapat. Dan tentunya akan berdampak pada produksi rokok ilegal yang kembali akan merugikan pemerintah. Tentu saja masyarakat akan kembali berpikir jika harus membeli rokok yang harganya semakin melambung. Untuk makan saja sulit, kebutuhan yang sejatinya menjadi pokok dalam kehidupan manusia.

Kasar kata, selalu saja kita sebagai masyarakat menjadi bulan-bulanan dalam upaya pemerintah menegaskan posisinya. Padahal pemerintah pastinya tahu, bahwa karakter industri rokok di Indonesia ini berbeda dengan yang berlaku di negara lain. Terdapat nilai-nilai kearifan yang saling melengkapi dalam laku usaha bangsa kita, khususnya pada industri kretek. Tidak bisa beban tarif cukai golongan industri kecil (golongan III) disamakan dengan golongan besar. Jika memang pemerintah bersungguh menjunjung semangat Nawa Cita. Isu simplifikasi cukai hanya akan membunuh sumber-sumber pendapatan lokal, sumber usaha dari lini kretek di antaranya.

Paradoksialisasi terjadi pada titik ini. Toh jika memang industri farmasi ingin mengembangkan dan memperluas produk penjualannya, biarkanlah rokok terus berkembang dan mengalir pesat di masyarakat. Biarkan masyarakat menjadi masyarakat yang konsumtif tinggi terhadap rokok. Dengan begitu industri farmasi bisa berkembang dan menyodorkan obat-obatan untuk masyarakat. Bukankah menguntungkan?

Buktinya mereka mengakui bahwasanya rokok bukanlah sumber segala penyakit yang bisa dijadikan komoditi penjualan obat-obatan pada masayarakat. Industri rokok hanya menjadi pesaing berat bagi penggiat industri farmasi. Maka dari itu mereka membutuhkan cara untuk menjatuhkan industri rokok dengan menyebarkan isu negatif tentang rokok.

Oleh : Fikri Mahbub (arahjatim.com, Biro Surabaya)

Baca Juga :