Banyuwangi, Arahjatim.com – Sebanyak 50 penari Gandrung berjajar di pematang sawah di Desa Tamasuruh, Kecamatan Glagah Banyuwangi, Senin (23/9/2019). Mereka membawakan tarian “Jejer Gandrung” secara langsung dengan disaksikan para turis dan pengunjung Resto Kemarang. Pengunjung pun dibuat kagum, karena dengan ruang gerak penari yang sempit tidak membatasi mereka olah gerak mengikuti musik Gandrung.
“Ini sebetulnya upaya ‘nguri-nguri’ kesenian tradisional dari kami di Waroeng Kemarang, sebagai destinasi Wisata Kelunis Lokal Banyuwangi. Komitmen awal kami, memang melestarikan kesenian daerah yang hidup subur di daerah ini. Meski demikian, perlu ada inovasi agar penampilan kesenian itu ndak monoton”, ujar Wowok Merianto, pemilik Waroeng Kemarang.
Wowok mengaku menjalin kerja sama dengan guru tari dari sejumlah sekolah, sehingga tidak ada kesulitan saat menyampaikan gagasan tersebut para guru tari langsung bisa menerjemahkan keinginanya, dan hanya membutuhkan waktu beberapa minggu untuk latihah.
“Kita sengaja memilih Tari Jejer Gandrung untuk dipentaskan di pematang sawah, karena sebagai bentuk tari penyambutan tamu, tari ini sangat populer dan banyak dihafal oleh anak-anak sekolah. Tidak heran, dalam waktu singkat mereka segera menyesuaikan diri dan bisa tampil maksimal”, tambah Wowok.
Baca juga:
- Tari Gandrung Banyuwangi Tampil di Pameran Wisata di Berlin, Jerman.
- Gandrung Banyuwangi Pukau Pengunjung Pameran Wisata Terbesar Malaysia.
- Polres Banyuwangi Tampilkan Gandrung Banyuwangi Di Makodam V Brawijaya.
Menanggapi kesan hanya mencari sensasi, dengan mementaskan Gandrung di tengah sawah, Wowok membantah tegas. Bahwa upayanya membawa pagelaran Gandrung ke tengah sawah adalah untuk mengingatkan kepada masyarakat, Gandrung adalah kesenian agraris. Awal kesenian gandrung adalah ritual Seblang, untuk memuja Dewi Sri sebagai Dewi Kesuburan.
“Saya sudah konsultasi dengan Budayawan Banyuwangi, Hasnan Singodimayan, bahwa tempat kesenian Gandrung ini sebetulnya di sawah, bukan di pantai. Kreativitas mengeman Gandrung Tengah Sawah ini, agar semakin menarik bagi turis nasional maupun international. Juga untuk menyatukan Gandrung dengan alam dan udara segar, kebetulan sawah masih terbentang di lokasi Waroeng Kemarang. Bahkan saat pementasan berlangsung, aktivitas petani mencabuti gulma (matun-red) tetap kita biarkan,” tambah Wowok.
Saat pementasan, Gandrung Tengah Sawah juga disiarkan langsung lewat akun Facebook, dan menuai banyak komentar positif atas upaya tersebut. Para netizen kebanyakan menyanjung dengan kata-kata hebat, keren, mantul, dan lain sebagainya.

Sementara itu, meski di Banyuwangi banyak agenda pertunjukan seni dan wisata, namun tidak menyurutkan niat warga lokal dan wisatawan luar daerah serta turis asing untuk melihat.
“Terus terang, saya salut dengan kreasi baru pentas Gandrung di tengah sawah. Kita bisa leluasa melihat gemulai tarian Gandrung, sambil menikmati desiran angin persawahan. Salut juga kepada penata tarinya, karena penari Gandrung di tengah terik matahari dilengkapi dengan “manset” yang sesuai dengan warna kulitnya. Selain untuk melindungi penari dari terik matahari, juga tidak menimbulkan interprestasi baru jika ‘manset’-nya berwarna” kata Pelukis senior Banyuwangi, S Yadi K yang sengaja menonton bersama keluarga besarnya.
Diaspora Banyuwangi yang tinggal di luar kota, seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Denpasar, serta kota-kota lain, kemarin juga terlihat menikmati penampilan Gandrung Tengah Sawah.
“Tim kami di Waroeng Kemarang, terus berupaya menyajikan pementasan terbaik. Posisi Waroeng ini ada di tengah sawah dan dekat dengan para petani, maka konsep ke depan yang dikembangkan tidak akan jauh dari potensi yang ada,” pungkas Wowok. (ful)










