Penjual Jenang Kediri Berangkat Haji di Usia 104 Tahun

oleh -
oleh
Mbah Martiyah, seorang penjual jenang sumsum asal Dusun Bogo, Desa Bulu, Kecamatan Semen, tampak didampingi putrinya, Muidah, saat menghadiri acara pelepasan jemaah haji di HCC SLG pada Selasa (7/4/2026).

Kediri, ArahJatim.com – Usia hanyalah angka bagi Mbah Martiyah. Di usianya yang telah menyentuh 104 tahun, nenek tangguh asal Kabupaten Kediri ini membuktikan bahwa niat suci dan kerja keras tidak akan mengkhianati hasil. Penjual jenang campur ini dijadwalkan akan berangkat ke Tanah Suci pada 19 Mei 2026 mendatang.

​Berikut adalah kisah lengkap Mbah Martiyah, sosok yang disebut-sebut sebagai calon jamaah haji tertua di Indonesia tahun 2026.

​Menabung Puluhan Tahun dari Jualan Jenang Sumsum

​Mbah Martiyah, yang lahir pada 1 Juli 1921, sehari-harinya tinggal di Dusun Bogo, Desa Bulu, Kecamatan Semen. Di teras rumah sederhananya, ia setia melayani pembeli berbagai jenis jenang, mulai dari jenang sumsum, grendul, ketan ireng, hingga mutiara.

pasang iklan_rev3

​Meski fisiknya sudah senja, semangatnya mencari nafkah tetap membara. Siapa sangka, dari kepingan rupiah hasil jualan jenang yang ia kumpulkan selama puluhan tahun, kini ia mampu melunasi biaya perjalanan ibadah haji.

​”Cita-cita saya memang naik haji dan uang saya kumpulkan sejak lama. Saya bersyukur sehat dan masih bisa melihat anak cucu saya,” tutur Mbah Martiyah dengan suara yang masih terdengar jelas.

​Sosok Mandiri dengan Stamina Luar Biasa

​Di usianya yang melampaui satu abad, Mbah Martiyah masih memiliki pendengaran yang tajam dan artikulasi bicara yang lancar. Rutinitasnya dimulai sejak fajar menyingsing; bangun pagi, menunaikan shalat Subuh, lalu langsung bersiap menyiapkan dagangan.

​Pelanggannya datang dari berbagai kalangan, mulai dari balita hingga orang tua yang sudah merindukan cita rasa jenang legendaris buatannya. Kedisiplinan dan pola hidup sehat ini ditengarai menjadi rahasia umur panjang dan kebugarannya.

​Didampingi Sang Putri Menuju Baitullah

​Dalam perjalanan spiritualnya nanti, Mbah Martiyah tidak sendirian. Ia akan didampingi oleh putri keduanya, Muidah (64). Muidah menceritakan bahwa ibunya adalah sosok dengan tekad baja yang telah mendaftar haji sejak tahun 2021.

​Mbah Martiyah sendiri merupakan kepala keluarga besar dengan 5 orang anak, serta total 50 cucu dan buyut. Keberangkatannya tahun ini menjadi momen haru bagi seluruh keluarga besar.

​”Saya bersyukur ibu sehat terus. Informasinya tadi ibu jamaah haji tertua di Indonesia. Mohon doanya kami semua sehat saat berangkat ataupun pulangnya,” harap Muidah.

​Teladan Kesabaran dan Keyakinan

​Kisah Mbah Martiyah memberikan pesan mendalam bagi generasi muda tentang arti kesabaran dan manajemen keuangan yang baik melalui menabung. Di tengah keterbatasan ekonomi dan usia yang tak lagi muda, ia membuktikan bahwa panggilan Allah ke Baitullah akan sampai kepada mereka yang sungguh-sungguh berikhtiar.

​Kabupaten Kediri patut bangga memiliki sosok inspiratif seperti Mbah Martiyah yang akan membawa doa dan semangat dari bumi Panjalu ke tanah suci Makkah. (das)

No More Posts Available.

No more pages to load.