Kediri, ArahJatim.com – Di tangan kreatif Utami Dewi Suntoro (55), sehelai daun bukan sekadar bagian dari tumbuhan yang gugur. Di galeri miliknya, Dewi House Scarf, daun-daun tersebut disulap menjadi karya seni bernilai tinggi yang menembus pasar internasional. Berawal dari rasa penasaran, perempuan asal Desa Wates, Kabupaten Kediri ini kini sukses menjadi srikandi ekonomi kreatif yang menginspirasi banyak orang.
Menemukan “Jatidiri” dalam Sehelai Kain
Perjalanan Dewi, sapaan akrabnya, bukanlah proses instan. Sejak lama, ia telah mengakrabi dunia kriya, mulai dari seni bordir hingga jahit-menjahit. Namun, pada tahun 2019, ia menemukan tambatan hati baru: Ecoprint. Sebuah teknik cetak alami yang menggunakan pigmen warna daun dan bunga untuk menciptakan motif unik di atas kain.
”Saya itu memang suka belajar. Setelah mencoba berbagai keterampilan, saya merasa passion saya ada di ecoprint. Karena teknik ini relatif baru dan unik, saya tertantang untuk mendalaminya,” ungkap Dewi dengan binar mata penuh semangat.
Melintasi Batas: Mengajar dari Sabang sampai Merauke
Alih-alih hanya fokus menumpuk pundi-pundi dari penjualan produk, Dewi memilih jalan sebagai pendidik. Ia percaya bahwa ilmu akan lebih bermakna jika dibagikan. Sejak mulai membuka pelatihan pada 2006, ia telah mencetak lebih dari 600 alumni yang tersebar di seluruh Indonesia.
Hebatnya, jarak bukan lagi penghalang. Lewat kelas online, ia membagikan rahasia teknik ecoprint, jumputan, hingga jahit kepada peserta dari Sabang sampai Merauke.
”Murid saya ada di mana-mana. Kalau offline biasanya saya mengisi di instansi atau sekolah, tapi yang paling masif memang melalui kelas daring,” tambahnya.
Inovasi Tanpa Batas: Ecoprint di Atas Bambu dan Mug
Jiwa eksplorasi Dewi tidak berhenti pada media kain. Terinspirasi dari sebuah pameran kerajinan, ia melakukan eksperimen berani dengan mengaplikasikan teknik ecoprint pada media keras.
Kini, produk Dewi House Scarf semakin beragam, mulai dari:
- Tumbler dan Mug dengan motif daun yang artistik.
- Kerajinan Bambu yang tampil lebih elegan dan modern.
- Fashion Item yang tetap mempertahankan sisi etnik.
Memikat Hati Pasar Jepang
Keunikan karya Dewi nyatanya tercium hingga ke mancanegara. Ia bercerita bagaimana wisatawan dan kolektor dari Jepang sangat mengagumi produknya. Menurutnya, pasar luar negeri memiliki apresiasi yang sangat tinggi terhadap produk yang ramah lingkungan dan buatan tangan (handmade).
”Orang luar negeri itu sangat menghargai proses dan budaya kita. Mereka melihat ecoprint sebagai karya yang eksklusif karena satu motif tidak akan pernah sama dengan motif lainnya,” jelas Dewi ketika ditemui di Galeri miliknya, Selasa (28/4/2026).
Kisah Utami Dewi Suntoro adalah bukti nyata bahwa usia bukanlah penghalang untuk terus berinovasi. Dari sebuah desa di Kediri, ia membuktikan bahwa kearifan lokal yang dikelola dengan kreativitas mampu berbicara banyak di panggung dunia. (das)





