7 Ekor Sapi Di Blitar Mati Mendadak, Dinas Peternakan Bantah Karena Anthrax

oleh -
Warga mengubur hewan sapi yang mati dengan gejala hidung berair, mengorok saat bernafas dan demam tinggi. (Foto: arahjatim.com/mua)

Blitar, ArahJatim.com – Setelah dihebohkan dengan kasus anthrax tahun 2014 yang lalu, para peternak sapi di Kabupaten Blitar kembali resah dengan matinya 7 ekor sapi, dengan gejala ngorok dan hidung berair. Selain itu, matinya 7 ekor sapi milik warga Desa Purwokerto Kecamatan Srengat Kabupaten Blitar juga hampir bersamaan.

Salah satu peternak yang hewan sapinya mati, yakni Mujiasri (40) warga Desa setempat mengaku, sapinya yang baru beranak sebulan yang lalu, tiba-tiba mengeluarkan ingus dari dalam hidung. Bahkan sapi miliknya juga mengorok saat bernafas serta disertai demam yang tinggi.

“Awalnya sapi saya gak mau makan, terus juga demam tinggi. Meski oleh petugas dokter hewan sudah disuntik, namun sehari setelah disuntik sapi saya ambruk dan mati. Karena khawatir menular pada anakan sapi, saya pun menguburkan indukan sapi di belakang kandang,” papar Mujiasri.

Tidak jauh dari rumah Mujiasri, sapi milik Suyanto juga mati dengan ciri-ciri yang sama, yakni mengeluarkan ingus, demam dan mengorok saat bernafas.

“Tiga hari sapi saya sakit. Tidak mau makan dan akhirnya sapi saya juga mati. Padahal sapi saya sedang hamil tiga bulan. Kami juga berharap kepada dinas terkait, untuk segera mengatasi kasus ini,” ujar Suyanto.

Sementara Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Blitar memastikan, bahwa penyakit yang menyerang sapi warga di Desa Purwokerto – Srengat bukan penyakit anthrax. Pihaknya juga membantah, jika sapi-sapi warga yang mati ini terserang penyakit ngorok atau SE.

“Pihak kami sudah mengambil sampel dari lokasi hewan ternak yang mati. Selain mengambil sampel darah, bulu, dan juga tanah dari kandang sapi untuk memastikan penyebab dari matinya beberapa ekor sapi milik warga, ” terang Drh. Yudha Satya W., Kabid Kesmavet Dinas Peternakan Kabupaten Blitar.

Di Desa Purwokerto sendiri, tercatat ada 7 ekor sapi yang mati dalam sebulan terakhir. Dinas Peternakan setempat menduga, matinya tujuh ekor sapi ini berkaitan dengan perubahan cuaca yang tidak menentu akhir-akhir ini.

“Namun untuk lebih memastikan penyebabnya, pihak kami telah mengirim sampel ternak warga, ke Dinas Peternakan Propinsi Jawa Timur dan Laboratorium di Malang,” pungkas Yudha. (mua)