ArahJatim.com – Beberapa waktu silam sejumlah kawan penghobi dunia malam mengomentari beberapa tempat hiburan malam di Kota Pahlawan. Maklum, hiburan malam di kota metropolitan macam Surabaya menjadi hal yang lumrah. Bahkan sebagian orang tua bilang “jangan ribut ya le kalau mabuk”. Pemakluman sosio kultural yang melekat.
Sejak bumingnya salah satu brand besar akibat gerusah gerusuhnya menjajaki iklan, malah menjadi blunder bagi mereka sendiri. Pesaing diskotik lain menyuarakan kebahagiaannya menyambut hukuman itu. Meski tak sepenuhnya menampakan. Malu kalau ditampakkan, itu jadi ciri khas etika masyarakat Nusantara.
Diskotik-diskotik amatiran, atau biasa disebut dengan diskotik pengunjung bocil laris manis digandrungi anak-anak muda yang baru belajar gemerlapnya sound system yang bar-bar, lampu kelap kelip yang bikin sakit mata, dan bibir cewek seksi yang melambai-lambai. Sungguh nikmat dunia.!
Biasanya ini biasanya, manusia Surabaya biasa menyebut diskotik macam itu dengan sebutan diskotik laga pertempuran bocil-bocil norak. Wajar saja, tiap selesai mabuk mereka ribut untuk menunjukkan eksistensi darah muda. Beda hal dengan diskotik ala kapitalis nan megah itu, pengunjungnya tertib dan taat aturan.
Padahal dilabeli kapitalis pun sebenarnya juga tidak, harga pasarannya sama saja. Cukup menguras kantong. Sungguh menguras. Bahkan anehnya bangga menceritakannya pada circle mereka setelah menghabiskan dana puluhan juta demi menghilangkan kesadarannya. Ironis sekali.
Oleh : Daniel Karunia LenteraÂ












