Kediri, ArahJatim.com – Suasana riuh rendah suara ketukan alat tenun bukan mesin (ATBM) menyambut kedatangan rombongan mahasiswa di Kelurahan Bandar Kidul, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri. Siapa sangka, di sudut mendali mas yang sarat histori ini, sebuah kolaborasi lintas negara sedang dirajut.
Sejumlah mahasiswa dari National Yunlin University of Science and Technology (Yuntech), Taiwan, didampingi oleh civitas akademika Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Nusantara PGRI (UNP) Kediri, datang untuk menyelami langsung proses pembuatan Tenun Ikat khas Kediri yang legendaris, Rabu (8/7/2026).
Membawa Mahakarya Lokal ke Panggung Global
Bukan sekadar kunjungan biasa, kehadiran para mahasiswa asing ini merupakan bagian dari program Summer Camp sekaligus International Pengabdian Masyarakat yang diinisiasi oleh FEB UNP Kediri.
Dekan FEB UNP Kediri, Amin Tohari, mengungkapkan bahwa agenda ini memiliki misi besar untuk mengenalkan potensi kearifan lokal Kediri ke kancah internasional.
”Tahun lalu, beberapa profesor dari Taiwan sudah berkunjung ke sini. Mereka terkesan, lalu bercerita kepada mahasiswa dan kolega mereka. Hasilnya, hari ini para mahasiswa sangat antusias untuk melihat langsung,” ujar Amin Tohari di sela-sela kegiatan.
Amin menambahkan, alasan dipilihnya Kampung Tenun Bandar Kidul sebagai destinasi utama adalah karena keunikannya. Berbeda dengan batik yang industrinya sudah sangat masif, tenun ikat memiliki kekhasan proses yang rumit dan autentik.
”Harapan kami tentu tidak hanya sekadar mengenalkan produk secara budaya, tetapi ke depan bisa membuka peluang pasar yang lebih luas hingga ke Taiwan,” tambahnya optimis.
Kekaguman Mahasiswa Taiwan terhadap Seni Tradisional Kediri
Bagi para mahasiswa asing, melihat benang-benang ditenun secara manual menjadi selembar kain bermotif indah adalah pengalaman yang magis. Cheng Sheng Wen, salah satu mahasiswa asal National Yunlin University of Science and Technology (Yuntech), Taiwan, tidak bisa menyembunyikan rasa kagumnya.
“I think it is so cool and interesting,” ujar Cheng Sheng Wen dengan mata berbinar. “We don’t know this industry before. It’s so fresh and new to me.” (Saya rasa ini sangat keren dan menarik. Kami belum pernah tahu industri seperti ini sebelumnya. Ini sangat segar dan baru bagi saya).
Mahasiswa jurusan International Business yang kini duduk di semester empat ini mengaku bahwa di Taiwan mungkin ada industri serupa, namun proses pengerjaan tradisional dan sentuhan personal seperti di Kediri memberikan impresi mendalam yang tak terlupakan bagi dirinya dan teman-temannya.
Medali Mas: Menjaga Kualitas, Merambah Pasar Internasional
Kunjungan ini tentu membawa kebanggaan tersendiri bagi Yusna Qurotta A’yuni, pemilik (owner) dari Tenun Ikat Medali Mas. Sebagai salah satu perajin yang konsisten menjaga mutu, Yusna melihat kehadiran mahasiswa lokal dan internasional ini sebagai peluang promosi yang luar biasa.
”Menurut saya ini sangat baik untuk memperluas pasar dan mengenalkan Tenun Ikat Kediri ke ranah yang lebih luas, terutama mancanegara,” kata Yusna.
Dalam sehari, Medali Mas mampu memproduksi sekitar 50 potong kain tenun. Yusna menjelaskan bahwa kekuatan utama dari produknya terletak pada inovasi motif dan warna yang terus diperbarui tanpa kehilangan identitas aslinya. Hal inilah yang membedakan Tenun Bandar Kidul dengan daerah lain.
”Kami selalu upgrade corak motif dan warna mengikuti tren, selain mempertahankan motif khas. Kualitas pewarnaan dan variasi produk kami juga lebih komplit,” jelas alumnus UNP Kediri angkatan 2016 tersebut.
Dari Kediri untuk Dunia
Saat ini, pasar Tenun Ikat Medali Mas tidak hanya memenuhi kebutuhan lokal Kediri dan sekitarnya. Melalui kolaborasi dengan berbagai desainer fesyen, kain-kain indah ini telah merambah ke luar pulau Jawa, bahkan sering dibawa sebagai buah tangan ke luar negeri.
Untuk harga sendiri, kain tenun ikat berkualitas tinggi ini dibanderol mulai dari Rp235.000 hingga Rp800.000 per potong, tergantung pada kerumitan motif dan bahan yang digunakan. Khusus untuk pasar internasional, produk sarung tenun ikat menjadi salah satu yang paling diminati, terutama oleh pasar Timur Tengah seperti Arab Saudi.
Bagi Yusna, kunjungan almamaternya bersama mahasiswa asing hari ini bukan sekadar urusan bisnis, melainkan sebuah pembuktian. Bahwa dari sepetak ruang produksi di Bandar Kidul, sehelai kain tradisional mampu menembus sekat-sekat negara dan menyatukan kekaguman anak muda antar bangsa. (das)












