Simulasi Penanganan Banjir Bandang dan Tanah Longsor Panti Jember

oleh -
Puluhan siswa SD dan guru berlari menuju titik aman dalam simulasi Tanggap Darurat Bencana (TDB) yang digelar di Balai Desa Pakis Kecamatan Panti Jember, pada Jumat (1/2/2019). (Foto: arahjatim.com/nurs)

Jember, ArahJatim.com – Simulasi Tanggap Darurat Bencana (TDB) digelar di Balai Desa Pakis Kecamatan Panti Jember, pada Jumat (1/2/2019) digelar oleh Korps Relawan Kampus (Korrek) Universitas Jember, bekerjasama dengan Mahasiswa KKN Tematik Tanggap Bencana Universitas Jember.

Pada simulasi digambarkan anak-anak sekolah dan masyarakat berlari mengamankan diri. Mereka menuju titik aman di balai Desa Pakis Kecamatan Panti. Suara sirine dan kentongan berlangsung untuk memberikan peringatan bahaya kepada para warga yang lain.

Kegiatan dilakukan agar anak-anak dan masyarakat memiliki pengetahuan mengenai situasi bencana dan upaya penyelamatan yang harus dilakukan. Joko Mulyono koordinator Korrek Universitas Jember mengatakan, Desa Pakis memiliki tingkat kerawanan bencana alam yang tinggi, karena berada dilereng Pegunungan Argopuro.

“Tahun 2006 lalu Kecamatan Panti sempat luluh lantak diterjang banjir bandang dan tanah longsor. Masyarakat dalam kondisi tidak siap. Sungguh sangat memilukan kondisi waktu itu. Karena tidak hanya korban harta korban jiwapun tak terhitung lagi. Kami tidak ingin hal itu terjadi lagi,” ujar Joko.

Baca juga :

Menurut Joko walaupun masyarakat tidak bisa mencegah terjadinya bencana namun masih bisa mengurangi resiko yang diakibatkan oleh bencana itu.

“Agar saat bencana terjadi mereka tau betul apa yang harus dilakukan. Sehingga korban jiwa bisa minimalisir. Semakin dini pendidikan itu diberikan maka semakin bagus. Oleh karena itu salah satu target sasaran simulasi bencana kali ini adalah siswa SD yang ada di Desa Pakis,” ungkap Joko.

Jumadi, Kepala Desa Pakis mengatakan bahwa bencana banjir bandang dan tanah longsor pada tahun 2006 silam menimbulkan rasa trauma yang mendalam di benak masyarakat.

“Tingkat kewaspadaan masyarakat saat ini sangat serius sekali. Semua masyarakat sudah bersiaga sehingga manakala terjadi bencana alam bisa langsung terkondisikan dengan baik. Bencana itu terjadi seketika kami tidak ingin kejadian tahun 2006 terulang dimana ada 8 rumah ditelan longsor,” kenang Jumadi.

Jumadi menjelaskan masyarakat Desa Pakis banyak yang mendiami wilayah dengan topografi bukit atau lereng pegunungan Argopuro. Bahkan menurutnya, dibeberapa wilayah posisi rumah warga tepat berada di bawah lereng. (nurs)