Jember, ArahJatim.com – Perubahan iklim global tak hanya menggeser pola cuaca, tetapi juga mengubah cara hidup masyarakat di berbagai sektor. Desa Suci, Kabupaten Jember, menjadi saksi nyata bagaimana krisis lingkungan dapat memicu transformasi sosial dan pertanian. Dua dekade silam, tepatnya pada 2006, desa ini luluh lantak diterjang banjir bandang akibat perubahan tata guna lahan dan anomali meteorologis.
Bencana itu meninggalkan jejak panjang. Namun alih-alih terpuruk, warga Desa Suci justru beradaptasi. Salah satu perubahan paling mencolok tampak pada sektor pertanian. Jika sebelumnya Desa Suci dikenal sebagai sentra sayuran seperti kubis dan kentang, kini lanskap pertaniannya didominasi tanaman pangan.
“Pasca bencana, petani lebih memilih menanam padi dan jagung. Sayuran yang dulu jadi andalan sekarang sudah sangat jarang,” ujar Sekretaris Desa Suci, Muhammad Rikuwan.
Peralihan komoditas ini tentu membutuhkan dukungan input pertanian, terutama pupuk. Di tengah persoalan pupuk kimia subsidi yang kerap terjadi, warga Desa Suci memilih jalan mandiri. Mereka mengembangkan pupuk organik berbasis teknologi sederhana bernama “Bata Bolong”.
Hendri, Sekretaris Kelompok Tani Harapan, menjelaskan bahwa pupuk organik tersebut dibuat dari limbah pertanian dan limbah rumah tangga. “Kalau nanti pupuk susah seperti dulu, kami sudah tenang karena punya stok pupuk organik sendiri,” katanya.
Inovasi lokal ini menarik perhatian pemerintah pusat. Asisten Deputi Peningkatan Daya Saing Produk Pertanian Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Silvi Charlote Sumanti, mengapresiasi langkah Desa Suci saat berkunjung pada 22 Desember. Ia meninjau langsung teknologi “Bata Bolong” yang dalam satu unit mampu memproduksi sekitar 48,6 ton pupuk organik per tahun.
Ketertarikan Caroline—sapaan Silvi Charlote—kian bertambah saat mengetahui Desa Suci juga mampu memproduksi mulsa pertanian dari limbah kemasan multilayer. “Apa yang dilakukan Desa Suci Jember ini sangat layak direplikasi di daerah lain karena mendukung swasembada pangan, khususnya dari sisi penyediaan input pertanian,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya sinergi dengan Universitas Jember agar inovasi teknologi aplikatif terus berkembang dan menjawab kebutuhan petani.
Dukungan akademisi memang menjadi bagian penting dari transformasi Desa Suci. Dosen Fakultas Pertanian Universitas Jember, Ihsannudin, menjelaskan bahwa adopsi teknologi tersebut merupakan hasil Program Desa Binaan yang didukung Kemendiktisaintek. “Desa Suci kami jadikan bukan sekadar desa binaan, tetapi juga Living Lab untuk mewujudkan pertanian tanaman pangan berkelanjutan dan kampung yang tanggap terhadap perubahan iklim,” ujarnya.
Melalui konsep Living Lab, pengetahuan akademik bertemu dengan pengalaman lapangan masyarakat. Dari desa yang pernah porak-poranda akibat banjir, Desa Suci kini tumbuh menjadi contoh ketangguhan dan inovasi dalam menghadapi perubahan iklim. (nurs)










