Banyuwangi, ArahJatim.com – Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Banyuwangi terus menggenjot kemampuan mahasiswanya dalam ranah penelitian. Melalui Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) dari Kemenristek Dikti, tiga hahasiswa Untag telah meneliti sepak bola api di sejumlah Pondok Pesantren di Kabupaten Banyuwangi.
Ketiga mahasiswa dari Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisip) tersebut adalah, Putri Aulia Eka Evananda, Nabila Afkarina, dan Sukma Nabila. Mereka membentuk tim untuk melakukan penelitian dengan judul “Potensi Sepak Bola Api Sebagai Strategi Pengalihan Libido Santri di Pondok Pesantren”.
Baca Juga :
- Luar Biasa! Tiga Mahasiswa Untag Ini Angkat Santet Sebagai Objek Penelitian
- Mahasiswa Untag Banyuwangi Lakukan Strategi Peacefull Education Pada Santri Di Ponpes
- Mahasiswa Untag Genjot Pariwisata Kebo-Keboan Melalui Metode Masterplan
Ketua tim peneliti, Putri Aulia Eka Evananda mengatakan, penelitian yang dilakukan terfokus pada para santri yang ada di Pondok Pesantren di Kabupaten Banyuwangi. Latar belakang diambilnya penelitian itu didasarkan pada kehidupan di Pondok Pesantren yang cenderung monoton dengan berbagai peraturan yang ada.
“Atas dasar tersebut kami khawatir perilaku para santri akan mengalami penyimpangan. Kita semua tahu di dalam pondok itu komunikasi dengan luar pondok juga dibatasi. Sehingga, untuk menghilangkan stres khususnya santri laki-laki akhirnya membuat permainan, yaitu sepak bola api,” kata Putri kepada Arahjatim.com.
Sementara itu, berdasarkan hasil penelitian, lanjut Putri, dengan menggunakan metodologi deskriptif kualitatif, ditemukan bahwa sepak bola api yang dilakukan para santri merupakan sarana dalam rangka pengalihan peningkatan libido.
Hal tersebut merujuk pada variabel yang digunakan dalam penelitian menggunakan empat langkah, yakni deseksualitas, pendidikan seks, permainan sepak bola api, dan kestabilan libido pada santri.
“Dengan kata lain, dengan melakukan rutinitas sepak bola api, selain menjadi potensi olahraga sepak bola, bisa juga untuk menjaga kearifan lokal budaya para santri. Dan yang lebih penting lagi, selain berolahraga juga dapat mengasah jiwa gotong royong serta memiliki kesepakatan sosial,” pungkas, Putri. (ful)












