Luar Biasa! Tiga Mahasiswa Untag Ini Angkat Santet Sebagai Objek Penelitian

oleh -
https://live.staticflickr.com/65535/48093155906_dc5a85f6dc_b.jpg
Tim peneliti mahasiswa Untag 45 Banyuwangi berbincang dengan salah seorang tokoh agama. (Foto: arahjatim.com/ful)

Banyuwangi, ArahJatim.com – Fenomena santet Banyuwangi rupanya menarik perhatian sekelompok mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Banyuwangi untuk melakukan penelitian. Tragedi yang memakan banyak korban terjadi pada awal reformasi dan sempat membuat heboh Bumi Blambangan hingga Nasional tersebut akan dikupas dalam bentuk kajian ilmiah.

Tim yang terdiri dari tiga mahasiswa Fakultas Ilmu sosial dan Politik (FISIP) tersebut adalah Viva Sofiatul Laili, Yurika Eva Prastiwi, dan Iqbal Trisma Al’Irshad. Dalam penelitian yang berjudul “Analisis Politik dan Santet pada Masyarakat Banyuwangi”, mereka menguraikan pengertian santet dan mengkorelasikannya pada ranah politik.

Ketua Tim Peneliti, Viva Sofiatul Laili mengatakan, penelitian dilakukan sebagai wujud dari pengamalan Tri Darma Perguruan Tinggi. Untuk itu, ia bersama tim di kelompoknya berupaya untuk mengurai benang merah dari fenomena santet yang terjadi pada tahun 1998-an.

“Di sisi lain, politik merupakan kebijakan yang dapat mempengaruhi kehidupan masyarakat. Sehingga tujuan besar dari penelitan ini adalah untuk mengetahui dan mendeskripsikan model kerja santet dalam mendukung konsep yang efektif dan stretegis bagi politisi Banyuwangi dalam kontestasi politik,” kata Viva kepada Arahjatim.com.

Adapun metodologi yang digunakan, lanjut Viva, yaitu dengan menggunakan metodologi penelitan kuantitatif dengan model purposif random sampling dan metode kualitatif. Hasilnya, hampir seluruh politisi di Kabupaten Banyuwangi sebanyak 69,2 % menyatakan pernah ke dukun santri/dukun priyayi/abangan. 16,6% menyatakan tidak pernah ke sana dan sisanya 14,2% merahasiakan.

“Dari jumlah tersebut, ternyata kedatangan politisi ke paranormal/dukun sebanyak 29,3% menyatakan inisiatif sendiri dan 41,1% saran dari orang lain. Sisanya, 29,6%  merahasiakan alasan datang ke rumah dukun,” jelas Viva.

Berdasarkan hasil penelitian melalui Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) yang dibiayai oleh Kemenristekdikti ternyata santet di Banyuwangi berbeda dengan sihir. Santet merupakan sebuah kearifan lokal yang sudah mendarah daging di masyarakat Banyuwangi. Sedangkan sihir bisa mencelakai orang lain.

“Menurut kami, bukan politisi Banyuwangi jika belum menggunakan santet,” tandasnya.

Sementara, Hary Prianto selaku dosen pendamping tim peneliti mengaku sangat bangga dan mendukung penelitian yang dilakukan mahasiswanya. Menurutnya, penelitian merupakan kegiatan positif yang memang sudah seharusnya dilakukan oleh setiap mahasiswa.

“Mengenai objek penelitian yang diambilnya, saya secara pribadi sangat mendukung kegiatan tersebut. Setidaknya ada pelurusan pemahaman antara santet dalam konstruksi kearifan lokal, dengan santet dalam pemahaman nasional yang dianggap dapat mencelakai,” pungkas, Hary Priyanto. (ful)