Minta Diturunkan Hujan, Ini Cara Yang Dilakukan Warga Banyuwangi

oleh -
oleh
https://live.staticflickr.com/65535/49047528293_2207bb4b8b_b.jpg
Ratusan petani lintas agama di Desa Kedung Asri, Kecamatan Tegaldelimo, Banyuwangi, menggelar ritual meminta hujan, Minggu (10/11/2019) siang. (Foto: arahjatim.com/ful)

Banyuwangi, Arahjatim.com – Dilanda kemarau panjang, ratusan petani lintas agama di Desa Kedung Asri, Kecamatan Tegaldelimo, Banyuwangi, menggelar ritual meminta hujan, Minggu (10/11/2019) siang. Ritual yang dikemas dalam baritan takir sewu dilaksanakan di area persawahan tempat mereka bercocok tanam.

Selain memohon agar segera diturunkan hujan, mereka juga berdoa agar hasil panen yang akan datang selalu diberi kelimpahan. Warga dan petani yang datang diwajibkan membawa nasi tumpeng atau takir untuk nantinya dimakan secara bersama-sama.

Ritual diawali dengan pawai ider bumi kesenian barong di ikuti oleh ratusan petani dengan membawa hasil pertanian berkeliling kampung dipimpin tokoh masyarakat dan tokoh agama setempat. Sesampai di lokasi persawahan mereka memanjatkan doa dengan harapan segera turun hujan agar para petani di daerahnya dapat kembali bercocok tanam.

pasang iklan_rev3

Ritual semakin meriah saat para petani dan warga berebut ribuan takir atau nasi tumpeng yang sudah ditata rapi di tengah sawah. Gunungan berisi buah-buahan dan sayur mayur pun tak luput dari rebutan warga.

“Kita percaya kalau mendapatkan nasi tumpeng atau hasil bumi di gunungan imi akan mendapatkan berkah. Ya semoga saja berkah yang kami terima nanti berupa berkah hujan. Sebab sudah lama sekali tidak turun hujan, tanaman kami juga butuh air,” kata Sugiharto, warga setempat.

Acara yang digagas oleh pemuda setempat yang mayoritas anak-anak petani sekaligus sebagai bentuk pelestarian tradisi baritan takir sewu yang sudah mulai ditinggalkan oleh petani setempat. Di akhir acara, warga menutupnya dengan makan bersama sekaligus sebagai momen kebersamaan dan kerukunan antar petani lintas agama di desa setempat.

“Ritual ini sebenarnya sudah sejak zaman nenek moyang kami. Tapi beberapa tahun terakhir mulai ditinggalkan. Nah, kita sebagai pemuda ingin tradisi atau ritual tetap berjalan dan terus lestari sampai ke anak cucu kami. Apalagi ini kan musim kemarau, kita juga berdoa bersama agar segera turun hujan,” ungkap Enggar, Ketua Panitia Baritan Sewu Takir.

Di saat kemarau panjang ini, datangnya hujan sangat diharapkan oleh petani, mengingat sumber mata air yang biasa mengairi sawah semakin mengering akibat kemarau panjang yang tak kunjung berakhir. (ful)

No More Posts Available.

No more pages to load.