Banyuwangi, Arahjatim.com – Kesenian Burdah Gembrung termasuk kesenian kuno dan masih mencoba eksis hingga saat ini. Kesenian bernuansa Islami tersebut berupa puji-pujian dan lantunan salawat yang diambil dari kitab Al-Barzanji, karya Syeh Jakfar Al-Barzanji bin Hasan bin Abdul Karim.
Musik pengiringnya berupa sejumlah rebana berbagai ukuran. Konon nama ‘gembrung’ diambil dari bunyi rebana yang paling besar, yaitu ‘brung’. Biasanya kesenian Burdah Gembrung hanya bisa dijumpai saat ada acara hajatan pengantin, khitanan atau selamatan kehamilan tujuh bulan.
Namun seiring perkembangan zaman dan maraknya kesenian modern, kesenian Burdah Gembrung yang dimainkan oleh kaum pria berumur diatas diatas 60 tahun tersebut nyaris tenggelam karena jarang diundang saat ada hajatan. Agar terus bisa eksis, kesenian yang awalnya menitikberatkan Dakwah Islam, saat ini banyak dipadukan unsur-unsur tradisi yang berkembang di daerah setempat.
Selain itu, peralatan musik yang awalnya hanya berupa rebana, saat ini juga dipadukan alat musik lain seperti, kendang, kempul, gong, hingga kluncing atau triangle. Seni suara pun juga tidak mutlak mengambil dari kitab Al-Barzanji, melainkan dipadukan gendhing-gendhing Using Banyuwangi yang sedang populer.
“Dulu tidak ada kempul dan gongnya, murni alat musiknya ya gembrung ini. Gendingnya yang diambil hanya dari kitab Al-Barzanji. Tapi sekarang banyak dipadukan. Ya karena perkembangan zaman saja biar mengikuti lainnya,” kata Untung, pemain burdah asal Desa Jambesari, Kecamatan Giri.
Untung menambahkan, hingga saat ini grup kesenian Burdah Gembrung di Banyuwangi hanya tinggal tiga grup saja yang bertahan. Yakni grup burdah di Desa Kemiren dan Desa Mondoluko di Kecamatan Glagah, serta satu grup di Desa Jambesari, Kecamatan Giri.
Sementara itu, minimnya minat generasi muda untuk meneruskan kesenian khas warga Using peninggalan nenek moyang disayangkan oleh salah seorang pemerhati Seni Budaya Using, Purwadi. Sebab kesenian tradisi bernuansa religi sejatinya memang memerlukan perhatian dan penanganan secara khusus agar bisa bertahan.
Selain itu, pengelolanya juga harus terus berinovasi agar gembrung tetap diminati generasi muda. Jika sebelumnya gembrung 70 persen adalah dakwah dan 30 persennya hiburan. Namun sekarang sebaliknya, 30 persennya dakwah dan 70 persennya adalah hiburan.
“Tampaknya saat ini kesenian burdah semakin ditinggalkan oleh generasi muda. Perlu ada langkah serius dari pemerintah. Tapi tidak perlu dibuat even atau festival begitu, saya kira yang lebih pas adalah bagaimana caranya agar kesenian ini lebih dikenal dan disukai oleh generasi muda,” kata Purwadi, Pemerhati Seni Budaya Using asal Desa Kemiren. (ful)










