Bantah Covidkan Pasien, RS Ngudi Waluyo: Kami Bertindak Sesuai Aturan

oleh -
dr. Hesti Purwanti,dokter spesialis penyakit dalam RSUD Ngudi Waluyo. (Foto: arahjatim.com/mua)

Blitar, ArahJatim.com – Setelah beredar kabar salah seorang warga Kelurahan Beru Kecamatan Wlingi meninggal dunia karena di-Covid-kan. Pihak Rumah Sakit Ngudi Waluyo Wlingi Blitar buka suara.

Pihak rumah sakit Ngudi Waluyo membantah terkait pernyataan pasien di-Covid-kan. Pihak rumah sakit juga membantah telah memaksa pihak keluarga untuk menandatangani persetujuan penanganan pasien sesuai prokes Covid.

Dr. Hesti Purwanti, dokter spesialis penyakit dalam Rumah Sakit Ngudi Waluyo Wlingi mengatakan, pihaknya memberikan diagnosis, ataupun memberikan keputusan tentang pasien ini, atau melakukan konfirmasi itu sudah sesuai pedoman, baik pedoman dari WHO maupun pedoman dari Kemenkes. Jadi kami tidak bisa melakukan tindakan yang di luar dari pedoman pedoman itu.

“Terkait pasien atas nama almarhum Slamet, hasil diagnosanya adalah probable Covid. Karena dari pemeriksaan baik dan rekam medis pemeriksaan semua mengarah ke diagnosa Covid. Makanya jenazah kita urus sesuai prosedur Covid,” terang Dr. Hesti Purwanti, dokter spesialis penyakit dalam RSUD Ngudi Waluyo Wlingi, Kamis (25/2/2021).

Hesti menambahkan, terkait pemaksaan dan mengcovidkan pasien ia membantah telah melakukan hal itu. Yang dilakukan pihak rumah sakit adalah memberi edukasi kepada pasien, menjelaskan tentang kondisi pasien, hasil diagnosis pasien, dan mengapa pihak RS memberikan diagnosis. Hal ini dijelaskan kepada keluarga pasien agar mengerti dan tidak ada pertanyaan lagi.

“Kami tidak memaksa tanda tangan dicovidkan, namun kami hanya memberi edukasi kepada pasien dan menjelaskan tentang kondisi pasien,” ujarnya.

Diberitakan sebelumnya, Susemi (60), warga Desa Beru Kecamatan Wlingi Kabupaten Blitar mengadu ke anggota dewan. Hal tersebut dilakukan setelah dirinya merasa kecewa dan tidak terima jika suaminya, Slamet Dijanto (70) meninggal dunia diCovidkan oleh salah satu rumah sakit di Blitar.

Jenazah Slamet diurus secara protokol kesehatan (prokes) Covid-19 setelah Susemi menandatangani surat pernyataan persetujuan pengurusan jenazah suaminya secara protokol kesehatan (prokes) Covid-19.

“Saya terpaksa menandatanganinya. Saat itu saya merasa ditekan untuk segera menandatanganinya. Saya juga kecewa, katanya sudah diurus sesuai dengan syarat agama. Tapi saya tidak diberi bukti berupa foto maupun lainnya,” kata Susemi saat ditemui di rumahnya, Rabu (24/2/2021).

Menurut Susemi, sebelum meninggal dunia, suamimya didiagnosis terkena stroke. Namun baru beberapa jam usai didiagnosis, Slamet meninggal dunia dan keluarga diminta menandatangani surat pernyataan persetujuan pengurusan pasien sesuai prokes Covid-19.

“Pihak rumah sakit juga janji mau swab anggota keluarga dan semprot rumah. Tapi sampai sekarang belum dilakukan,” tandasnya. (mua)