Tulungagung, ArahJatim.com – Seniman selalu harus mampu menjawab tantangan jaman. Mungkin inilah yang menjadikan para seniman ketoprak Tulungagung untuk terus berupaya menjaga seni budaya yang sudah menjadi ” ikon ” kebanggaan kotanya. Komunitas seniman ketoprak Tulungagung, paska kebesaran ” Siswo Budoyo ” , masa itu, ingin terus digali dan diharapkan mampu tetap eksis, walau harus melewati perjalanan era dan masa.
Masih bermarkas di kecamatan Kauman Tulungagung, Pasangan seniman Agoes Timur dan istrinya , Ny Sari, telah merintis ketoprak baru dengan nama Ketoprak Sari Budoyo.
Kelompok ini , berharap agar para seniman seniwati lokal Tulungagung, untuk tetap eksis, minimal menjaga kebesaran seni ketoprak yang sudah menjadi kebanggan Tulungagung, sepeninggal Siswondo HS maestro Siswo Budoyo.
Dari peristiwa paska itu, memang terjadi ” konflik ” internal keluarga, yang justru menjadikan ketoprak tersebut semakin menurun pamor pentasnya.
Memang diakui, sepeninggal sang Maestro, banyak upaya untuk tetap menjaga eksistensi, tetapi diakui atau tidak, belum mampu mempertahankan kebesaran itu, selain nama dan sebutan saja.
Tokoh ketoprak, yang juga pernah menimba ilmu di Siswo Budoyo, Agoes Timur, mengakui problematika , yang terjadi pada kelompok seni ketoprak kebanggan Tulungagung itu. Dengan satu tekat, untuk melanjutkan seni ketoprak bersama Ny Sari istrinya, dibentuklah nama ketoprak Sari Budoyo .
Perjalanan waktu, ternyata juga tidak seperti harapan semula, bahwa ketoprak, mulai surut, seiring era dan masa. Sebagai seniman, ini yang terus membuat Agoes Timur bereksperimen, untuk tetap bisa mempertahankan nama ketoprak, maka atas diskusi dan komunikasi yang terus terjalin dengan kelangan manapun, maka dipilihlah model baru, yang kini mulai ditawarkan ke publik, dengan titel ketoprak dongeng, atau sekarang lebih dikenal Prakdong. Inilah yang diceritakan pada ArahJatim.com saat pentas, Sabtu 12/11/2022.
” Jadi begini, jaman dan masa memang tidak bisa kita bantah. Seni ketoprak yang dulu pernah jaya, kini pamornya hanya tinggal nama. Banyak Faktor mas. Contohnya, dengan era yang sudah mengglobal, kita harus bersaing dihadapan publik dunia. Tehnologi mendukung itu. Kemudian tontonan praktis menjadi tuntutan. Belum lagi sekarang mencari generasi ketoprak, sulit dengan beberapa pertimbangan. Dari situlah, diskusi, saling tukar pendapat, baik praktisi seniman, akademisi, dan tokoh-tokoh yang masih cinta budaya, kami sepakat merubah pola ketoprak, yang praktis, minimalis , tetapi, tidak menghilangkan unsur budaya dan edukasinya”, ungkap Agoes Timur, atau yang lebih dikenal dengan nama Mbah Wir.
Sementara, Nyonya Sari, ketika dimintai pendapatnya, terkait Prakdong, membenarkan alsan alasan yang disampikan suaminya, tetapi dirinya merasa optimis , walau masih harus babad dari nol lagi.
” Yah, kami terus melakukan riset, dan komunikasi,diskusi, apabyang harus dibangun untuk mempertahankan kesenianketoprak ini. Kami melakukan kerja bareng dengan lintas seniman kekinian. Di kelompok kami ini ada seniman teater kampus, praktisi budaya secara akademis, media, kelompok pop anak muda , seniman pantomim, pegiat stand up comedy, dan lainya , untuk saling mengisi, dan terkonseplah Prakdong ini. Jadi modelnya, selain penabuh minimalis, ada dalang pengatur laku, menyatu dalam satu panggung, bahkan jarak penonton dibuat menyatu dengan tampilan cerita ketoprak, seakan tanpa sekat. Ini nilai lebih yang kami garap”, papar Ny Sari yang terus semangat mengkonsep model ketoprak baru itu.
Seperti diketahui, dalam beberapa bulan paska Covid 19 ini Prakdong telah dipercaya salah satu televisi lokal Jatim, untuk tampil dan sudah menghasilkan beberapa episode cerita, yang secara pakem tampilan ketoprak, masih terasa kental, tetapi durasi cerita dan peraga yang minimalis.(dni)












