Banyuwangi, ArahJatim.com – Gempa bermagnitudo 4,9 yang berpusat di perairan Jembrana, Bali sekitar pukul 08.29 WIB membuat geger masyarakat pesisir Pantai Selatan Banyuwangi, Rabu (24/7/2019) pagi. Meski BMKG memastikan gempa tidak berpotensi tsunami, namun warga Dusun Pancer, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran tetap panik.
Mereka berbondong-bondong lari naik ke atas bukit untuk menyelamatkan diri lantaran takut terjadi tsunami. Ratusan warga yang panik juga membawa barang-barang berharganya, serta surat-surat penting seperti akta kelahiran, sertifikat tanah, ijasah hingga buku nikah.
Gempa yang terjadi pada jam pelajaran sekolah tersebut juga sempat membuat siswa-siswi di SDN 9 Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran berhamburan keluar kelas. Sementara, pascagempa, relawan BPBD Banyuwangi dan Babinsa, serta Koramil Pesanggaran langsung menenangkan siswa yang panik dengan mengajak bernyanyi bersama di halaman sekolah.
Baca juga:
- Dampak Gempa M 6,0 Di Nusa Dua Bali Terasa Hingga Banyuwangi.
- Masjid Nurul Islam Rajegwesi Banyuwangi Dirobohkan.
- BNPB Mulai Ekspedisi Desa Tangguh Tsunami Di Banyuwangi.
Kepanikan warga Dusun Pancer sangat beralasan, selain belum lama merasakan gempa hingga menyebabkan beberapa kerusakan, ternyata juga disebabkan lantaran warga mendengar suara sirine peringatan dini tsunami. Warga mengira suara sirine tersebut berasal dari alat deteksi tsunami (early warning system) yang terpasang di Pantai Pancer.
Padahal suara tersebut adalah sirine internal milik perusahaan tambang bagi karyawannya yang selalu berbunyi pada saat gempa bumi terjadi dengan kekuatan gempa berapapun. Trauma akan tsunami yang pernah melanda Dusun Pancer tahun 1994 lalu juga menjadi alasan warga begitu panik saat ada gempa.

”Yang bunyi itu adalah sirine dari kawasan tambang itu untuk intern, guna memberikan peringatan kepada karyawan di sana terkait adanya gempa. Cuma bunyi itu kedengaran keluar yang itu kemudian timbul kepanikan warga. Sehingga mereka banyak yang mengungsi,” kata Eka Muharram, Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Banyuwangi
Sementara itu, BMKG Kelas III Banyuwangi memastikan gempa berkekuatan 4,9 SR yang telah dimutahirkan menjadi magnitido 4,6 di Jembrana, Bali tidak berpotensi tsunami. Getaran gempa tercatat terasa cukup kuat dirasakan masyarakat di wilayah Kuta, Denpasar, Banyuwangi hingga Jember. Sedangkan di wilayah Gianyar, Tabanan dan Lombok Utara getarannya tercatat hanya berskala II MMI (modified mercalli intensity).
“Gempa ini akibat aktivitas subduksi lempeng Indo-Australia ke bawah Lempeng Eurasia. Tidak berpotensi tsunami. Potensi gempa susulan bisa saja terjadi tapi kekuatannya tidak sebesar gempa yang terjadi Rabu pagi,” kata Gigik Nurbaskoro, prakirawan BMKG Banyuwangi

Setelah gempa tadi pagi (08:29 WIB) yang berkekuatan magnitudo 4,6 SR, gempa susulan berkekuatan 4,1 SR yang berpusat di Jembrana, Bali kembali dirasakan masyarakat Banyuwangi pada pukul 17.53 WIB.
Pihak BMKG mengimbau kepada warga untuk tidak mudah terpengaruh oleh informasi hoax akan terjadinya tsunami. BMKG juga meminta warga untuk tetap tenang sambil terus memperbaharui informasi resmi dari website atau media sosial milik BMKG. (ful)











