Sumbang Pemikiran untuk Muktamar, Generasi Muda NU Gelar Mudzakarah Nasional

oleh -
oleh
Dari kiri ke kanan, Abdullah Azwar Anas (mantan Bupati banyuwangi 2 periode/Ketua Umum IPNU 2000), Asrorun Ni’am Sholeh (Sekjen Majelis Alumni IPNU/Katib Syuriyah PBNU), Ali Ramdhani (Dirjen Pendis Kemenag). (Foto: arahjatim.com)

Pertemuan ini juga dihadiri oleh alumni IPNU se-Indonesia. Pertemuan dilakukan secara hibrida, yang diikuti sebanyak 150 orang. Hasil mudzakarah menjadi salah satu masukan bagi penyiapan materi muktamar.

Menyiapkan Fondasi

Ketua Panitia Pengarah Muktamar Ke-34 Nahdlatul Ulama Prof. Muhammad Nuh menjelaskan bahwa memang Muktamar Ke-34 berupaya menyiapkan peta jalan utama untuk melahirkan pembaharu.

pasang iklan_rev3

“Muktamar ini momentum untuk menyiapkan fondasi,” ujar pria yang pernah menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan 2009-2014 itu.

Bagian integral dari pembaharuan itu adalah kemandirian dalam perkhidmatan kepada masyarakat. Mandiri, menurutnya, bukan sekadar secara pengetahuan saja, melainkan kesatuan pengetahuan, pola pikir, dan perilaku.

Ia bertekad NU memiliki sebuah ekosistem tersendiri di usianya ke-100. Ekosistem tersebut mencakup sistem dakwah, layanan kesehatan, hingga pusat perekonomian.

Oleh karena itu, semangat yang harus dibangun dalam mewujudkan cita-cita bersama itu adalah spirit kekitaan, bukan lagi personal. Ke depan, tidak ada lagi ‘saya’. Sebab, menurutnya, yang ada hanyalah ‘kita’.

Jembatan menuju kemandirian itu juga harus dibangun oleh orang-orang yang sudah ahli. Sebab, pembangunan rumah sakit, misalnya, tidak cukup dengan hanya niat dan tekad, tetapi juga membutuhkan modal, pelaksanaan pembangunannya, hingga pengelolaannya, bukan sekadar percobaan.

“Expert (seorang ahli) itu tahu persoalan dan jawaban dan melaksanakan,” kata Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) itu.

Suasana mudzakarah yang berlangsung secara hibrida, diikuti 150 alumni IPNU dari seluruh Indonesia, yang hadir secara langsung maupun virtual. (Foto: arahjatim.com)

Digital Leadership

Sementara itu, Ketua Umum Pimpinan Pusat IPNU 2000-2001 Abdullah Azwar Anas menegaskan perlunya membuat “Digital Leadership ini yang sering kita praktikkan sehari-hari tetapi belum terkonsolidasi dengan baik,” katanya.

Hari ini, masyarakat sedang melakukan bagaimana digital leadership itu terjadi. Orang bisa tidak hadir secara fisik, tetapi bisa memberikan inspirasi kepada kita semua.

“Model-model dakwah, konsolidasi kita ke depan saya kira demikian. Ini tantangan kita semua,” ujarnya.

Di masa podcast tengah menjadi tren sekarang, banyak kiai yang belum mengenalnya. Padahal kemampuan pengetahuan keagamaanya lebih mumpuni.

“Jadi, digital leadership ini sekarang sudah menjadi model, bagaimana kita sekarang rapat semua sudah pakai hp. Sangat mungkin besok, diklat-diklat, pengkaderan, tidak lagi dilakukan secara tatap muka, tetapi melalui online dengan modul-modul yang disiapkan,” katanya.

“Tentu mungkin NU dan IPNU dalam jangka panjang. Digital leadership ini bisa dikembangkan, karena ini keniscayaan,” lanjut Bupati Banyuwangi 2010-2020 itu. (*)

No More Posts Available.

No more pages to load.