Banyuwangi, ArahJatim.com – Penerapan sistem zonasi pada Pendaftaran Peserta Didik Baru (PPDB) tak hanya dikeluhkan oleh calon siswa, dan orang tua murid saja. Sejak diterapkannya sistem zonasi, banyak rumah kos mangkrak lantaran tak lagi ada pelajar dari pelosok desa yang bersekolah di wilayah perkotaan.
Kondisi tersebut sangat dirasakan pemilik rumah kos yang berdekatan dengan sekolah favorit seperti SMK/SMA Negeri di wilayah Lingkungan Sukorojo, Kelurahan Banjarsari, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi. Sejumlah pemilik rumah kos mengaku usahanya menjadi sepi dan terancam tutup akibat penerapan sistem zonasi.
”Sepi sekarang, dulu kalau waktunya pendaftaran gini sudah ada yang daftar kos bahkan kita sampai menolak karena sudah full. Tapi sejak adanya sistem zonasi, anak-anak dari luar kecamatan tidak ada yang masuk karena sekolah di dekat rumahnya sana. Sudah gak ada lagi anak kos sekarang,” kata Marmah, salah satu pemilik rumah kos pelajar, saat ditemui Arahjatim.com Jumat, (28/6/2019) pagi.
Rumah kos di wilayah Lingkungan Sukorojo tersebut memang menyasar siswa SMA/SMK yang menimba ilmu di beberapa sekolah favorit. Tercatat ada sekitar empat sekolah favorit yang lokasinya saling berdekatan. Seperti SMAN 1 Glagah, SMAN 1 Giri, SMKN 1 Banyuwangi dan SMKN 1 Glagah.
”Hampir 90 persen rumah kos di lingkungan ini mengalami hal yang sama. Rumah kos milik tetangga saya baru dua tahun dibangun dan apesnya enggak ada yang ngekos sama sekali karena ada aturan baru tentang zonasi. Padahal kawasan sini dulunya dilirik banyak orang untuk berinvestasi kos-kosan, tapi sejak ada sistem zonasi orang berpikir 100 kali untuk membuat kos-kosan,” ungkap Rimang, salah satu warga Lingkungan Loji, Kelurahan Boyolangu.
Sebelum penerapan sistem zonasi, banyak siswa sekolah dari luar kecamatan di wilayah Banyuwangi selatan yang indekos di dekat sekolah favorit. Dengan sistem zonasi, sekolah yang dulunya favorit, saat ini hanya didominasi pelajar dari lingkungan sekitar. Pemilik kos saat ini hanya bisa pasrah, rumah kos miliknya hanya dibiarkan mangkrak akibat tak berpenghuni.
Sekolah yang dulunya favorit dan diidam-idamkan oleh calon pelajar dari luar daerah, saat ini hanyalah sekolah biasa yang sama halnya dengan sekolah-sekolah yang ada di pinggiran kota.
”Efeknya domino, bukan hanya pemilik kos saja yang merugi. Pemilik warung-warung makan di sekitar kos-kosan yang dulu sebagai tempat langganan anak kos makan, sekarang bisa dipastikan sepi karena sudah tidak ada anak kos lagi. Bisnis laundry yang pasarnya anak sekolah juga terancam tutup,” pungkas. (ful)







