Menjadi Penari Gandrung Sejati, Beginilah Prosesnya

oleh -
oleh
https://live.staticflickr.com/65535/48142840957_a0a5e0d0a9_b.jpg

Banyuwangi, ArahJatim.com – Menjadi seorang penari gandrung sejati tak hanya ahli dalam menari dan menyanyi saja. Di Sanggar Tari Sapu Jagad, Desa Kemiren, Banyuwangi, beberapa mahasiswa dari Unesa Surabaya menampilkan sendratari yang menceritakan perjalanan seorang gadis remaja untuk menjadi penari gandrung sejati.

Mereka dilatih mulai dari bagaimana mengenakan kostum gandrung, menari, menyanyi, hingga berperilaku sopan kepada penonton.

Prosesi wisuda gandrung atau lebih dikenal dengan nama meras gandrung benar-benar menghipnotis wisatawan yang menyaksikan.

pasang iklan_rev3

Para penari tersebut adalah mahasiswi dari Unesa Surabaya yang menyelesaikan tugas akhir kuliahnya dengan menampilan sebuah sendra teater tari perjalanan seorang gadis remaja untuk menjadi gandrung sejati yang dibimbing langsung oleh gandrung senior Supinah.

Selain itu, petuah-petuah penting dari gandrung senior juga diberikan kepada calon penari gandrung. Mereka berpesan kepada calon penari gandrung agar tak sombong jika sudah dinobatkan sebagai gandrung. Seperti halnya tanaman bambu atau orang Using menyebutnya “jajang”.

Baca juga:

“Semakin tinggi tumbuh ke ke atas, pucuk jajang atau bambu tetap merunduk ke bawah, yang artinya jika sudah di atas kesuksesan tetaplah rendah diri dengan melihat ke bawah,” pesan gandrung Supinah.

Setelah petuah diberikan, para calon gandrung diminta untuk menampilkan gerakan tari yang nantinya akan dipilih untuk diwisuda. Kemudian, prosesi wisuda gandrung yang sarat akan nilai kesakralan ini juga harus dilalui oleh calon penari.

Mereka diritual sedemikian rupa dengan semerbak bau kemenyan di balik sebuah kain putih hingga akhirnya menjadi seorang gandrung sejati. Gandrung sejati tak hanya pandai menari, penari juga harus mampu menyanyikan gending-gending gandrung yang cengkoknya tak semua orang bisa menguasainya.

Calon penari gandrung di Sanggar Tari Sapu Jagad di Desa Kemiren, Glagah, Banyuwangi. (Foto: arahjatim.com/ful)

Beberapa sesi tarian gandrung juga harus dikuasai. Seorang gandrung sejati juga harus pandai melayani penonton yang ingin menari bersama dalam sesi paju gandrung, tanpa meninggalkan nilai sopan santun dari seorang penari gandrung meski kadang ada saja penonton jahil yang menggodanya.

“Ini tugas skripsi saya, saya ambil judul Gandrung Jajang, selain ingin melestarikan gandrung, saya ambil tema Gandrung Jajang karena bambu memiliki nilai filosofi yang sangat mendalam. Bambu yang tumbuh menjulang tinggi tetap akan menunduk ke bawah, artinya kita sebagai manusia harus tetap rendah hati meski sudah berada pada kesuksesan. Begitu pula gandrung yang telah diwisuda, mereka tak boleh sombong setelah dinobatkan sebagai gandrung sejati, tapi harus tetap rendah diri,“ jelas Riska Widiyana, mahasiswi Unesa yang juga koreografer Gandrung Jajang.

Usai melakukan seluruh prosesi wisuda handrungbatau meras gandrung penari dan wisatawan yang hadir langsung mengadakan selamatan dengan makan bersama pecel pitik. Diharapkan, gadis-gadis remaja yang sudah dinobatkan sebagai gandrung tetap mengingat akan filosofi dari sebuah bambu, meski menjulang tinggi, namun tetap merunduk ke bawah.

”Wah ternyata gandrung itu tak hanya sekadar menari ya, saya baru tahu ini banyak nilai-nilai yang terkandung dalam gandrung. Untuk menjadi gandrung juga harus pandai bernyanyi, dan itu ada prosesinya melalui meras gandrung. Saya benar-benar baru tahu ini,” kata Della, salah seorang wisatawan asal Jakarta. (ful)

No More Posts Available.

No more pages to load.