Kediri, ArahJatim.com – Kebakaran hebat yang melanda Kantor Bupati Kediri menyisakan duka mendalam. Namun, semangat untuk bangkit tak padam. Pembersihan puing-puing terus dilakukan, sementara Pemkab Kediri menaksir kerugian bangunan gedung mencapai angka fantastis mencapai Rp135 miliar.
Bupati Kediri, Hanindhito Himawan Pramana, menyampaikan, kondisi operasional kantor sudah kembali normal, meski beberapa ruangan tidak dapat digunakan.
“Antar-OPD saling berbagi ruangan agar pekerjaan bisa terus berjalan,” ujar Mas Dhito, sapaan akrab Bupati.
Kendati demikian, tantangan besar menanti, terutama terkait pembangunan kembali gedung yang hancur. Mas Dhito menyebut, pemulihan ini sangat bergantung pada ketersediaan dana.
“Siang ini kami akan mengajukan surat ke Kementerian PUPR untuk meminta bantuan pendanaan,” jelasnya.
Kerusakan parah melanda sejumlah bagian vital, termasuk ruang kerja Sekda, Bupati, Wakil Bupati, Inspektorat, dan Kebangpol. Beberapa gedung di sisi timur, seperti Super Tabung dan BPKAD, masih bisa diselamatkan.
Pembersihan 60%, Aset Kembali Dihitung
Proses pembersihan puing-puing telah mencapai 60% dan ditargetkan rampung besok. Untuk mempercepat proses, Pemkab Kediri mengajak seluruh masyarakat untuk berpartisipasi dalam kegiatan kerja bakti dan gotong royong. Apel pagi dijadwalkan besok pukul 08.00 WIB, dengan penekanan pada keselamatan, mengingat beberapa area masih rawan ambruk.
Selain itu, Mas Dhito juga mengungkapkan bahwa sudah banyak yang mengembalikan barang jarahan, Ketika diitanya terkait tempat penyimpanan barang jarahan, “Rahasia takut nanti dijarah lagi,” Jawab Mas Dhito dengan bergurau.
Pentingnya Membedakan “Patung” dan “Arca”
Bupati Hanindhito Himawan Pramana juga meluruskan kesimpangsiuran mengenai hilangnya artefak. Ia menegaskan, yang hilang dari kompleks perkantoran adalah arca, bukan patung.
“Masyarakat jangan tertukar. Arca yang di kami itu yang hilang, kalau patung itu yang kemarin ditemukan di tempat Patung Hutan Joyoboyo,” jelasnya.
Mas Dhito menambahkan, “Sebuah benda baru bisa disebut arca jika usianya sudah mencapai 1000 tahun. Jika baru beberapa bulan, itu masih patung.” Pernyataan ini sekaligus memberikan edukasi kepada publik mengenai perbedaan istilah yang sering kali dianggap sama.
Kebangkitan dari tragedi ini diharapkan bisa menjadi momentum untuk membangun kembali Kabupaten Kediri yang lebih tangguh. “Dari sisa-sisa puing inilah kita bisa kembali bangkit,” pungkas Mas Dhito. (das)











