Banyuwangi, ArahJatim.com – Setiap Lebaran warga Desa Olehsari, Kecamatan Glagah, Kabupaten, Banyuwangi menggelar ritual yang sangat unik, yaitu Tarian Seblang. Ritual yang sarat dengan nuansa mistis yang berlangung selama 7 hari berturut-turut tersebut merupakan ungkapan rasa syukur warga setempat.
Sebelum memulai pertunjukan tari, penari Seblang terlebih dahulu dirias di rumahnya. Usai dirias, penari Seblang diarak keliling kampung menuju pentas tari diiringi sejumlah sinden dan pawang sambil mengusung bara api yang diletakkan pada wadah khusus yang ditaburi kemenyan juga berbagai macam sesaji.
Di sepanjang perjalanan, bau kemenyan menyeruak hingga menusuk hidung para penanton yang ikut serta mengarak penari. Tiba di atas pentas, sinden memasang mahkota dari untaian daun pisang muda dan bermacam bunga atau biasa disebut omprog di kepala penari.
Setelah persyaratan ritual lengkap, di bawah payung agung, ritual tari Seblang dimulai. Penari Seblang memegang nampan kemudian dibacakan doa oleh sesepuh adat dan pawang untuk mengawal penari memutar di bawah payung agung.
Baca juga:
- Warga Using Banyuwangi Sambut Bulan Ramadan Dengan Ritual “Penampan”.
- Lebaran Hari Kedua, Warga Desa Kemiren Banyuwangi Gelar Tradisi Barong Ider Bumi.
- Inilah Alasan Warga Berebut Air Perasan Kain Kafan Buyut Cungking.
Dalam proses tersebut, jika nampan yang dipegang penari terlepas dan jatuh, berarti penari sudah kerasukan roh halus. Melihat kondisi tersebut, ratusan penonton yang menyaksikan bertepuk tangan pertanda pertunjukan tarian Seblang bisa dimulai.
Selanjutnya, sambil memejamkan kedua mata dan dalam kondisi tidak sadarkan diri, penari Seblang menari mengelilingi pentas di bawah payung agung. Penari Seblang menari mengikuti musik gamelan khas daerah setempat dan diiringi 45 gending atau lagu berbahasa Using yang dibawakan puluhan sinden selama 3 jam.
Ritual yang sarat dengan nuansa mistis dan penuh makna tersebut, selalu dijubeli ribuan penonton, baik warga sekitar maupun penonton dari luar daerah, seperti, Jember, Malang, Madura, Bali, Surabaya bahkan dari Jakarta yang sengaja datang untuk melihat langsung pertunjukan yang digelar setiap bulan Syawal dalam penanggalan Jawa.
Selain hanya ingin melihat tarian Seblang, para penonton juga ingin mendapatkan bunga sesaji yang dibagikan oleh sang penari. Untuk mendapatkan bunga sesaji atau biasa disebut Kembang Dermo berisi 3 kuntum bunga yang dirangkai dan ditancapkan menggunakan sunduk bambu tersebut, penonton diwajibkan memberi uang mahar seikhlasnya. Mulai dari 2.000 rupiah hingga 100.000 rupiah. Tidak jarang, warga sengaja memborong Kembang Dermo untuk dibawa pulang dan dibagikan kepada sejumlah kerabat dan temannya.
Menurut warga, bunga tersebut dipercaya bisa digunakan sebagai tolak bala, mengusir pengaruh jahat dan dipercaya bisa melancarkan rezeki, jodoh serta keselamatan. Tak pelak dalam waktu yang cukup singkat, Kembang Dermo yang dibagikan menjadi rebutan dan ludes diserbu penonton.
“Saya penasaran ingin melihat tarian Seblang. Bagus ya? Yang nari anak kecil sambil merem dan kesurupan. Saya juga pingin dapat bunga ini, katanya bisa untuk mempermudah dapat rezeki dan jodoh. Siapa tau beneran, kan saya belum punya pacar. Ini juga ada pesenan dari teman di Bali untuk bawakan bunga,” ungkap Mely, penonton dari Bali.
Pengakuan senada juga dilontarkan oleh Hadi Abdillah. Dirinya datang jauh dari Jakarta bersama keluarganya hanya ingin melihat langsung tarian Seblang Olehsari yang sudah lama diagendakan.
“Kebetulan di Banyuwangi ada saudara. Sudah lama kita agendakan pingin melihat tarian Seblang. Mumpung ada penerbangan Banyuwangi-Jakarta kita sempatkan ke Banyuwangi. Alhamdulillah keluarga senang melihat, tadi juga dapat bunga. Katanya sih bisa untuk tolak bala dari pengaruh jahat,” kisah Hadi.
Berita terkait:
Usai membagikan bunga sesaji, ritual tarian Seblang yang sudah memasuki hari ketiga, Minggu (9/6/2019) tersebut dilanjutkan dengan Tundikan atau melempar selendang oleh penari Seblang ke arah penonton. Penonton yang terkena lemparan selendang, wajib naik ke atas pentas menari bersama penari seblang mengelilingi payung agung, tidak boleh diwakilkan. Sebab, jika penonton menolak naik panggung untuk diajak menari bersama, panari Seblang akan murka dan marah.
“Jadi kalau sudah ditundik dengan selendang, penonton syaratnya harus naik panggung menari bersama penari Seblang. Kalau menolak, Seblangnya marah, ngambek. Apalagi diwakilkan ke orang lain, pasti ditolak oleh penari Seblang. Siapapun yang ditundik, tua, muda, laki, perempuan bahkan anak-anak pun wajib ikut menari,” ungkap Tulus warga setempat.
Bagi masyarakat setempat, ritual tarian Sablang yang sudah ada sejak ratusan tahun tersebut, selain untuk melestarikan budaya warisan leluhur mereka juga dijadikan lambang kemakmuran dan ungkapan rasa syukur atas limpahan rezeki serta diberikan keselamatan oleh yang maha kuasa sekaligus sebagai tolak bala agar warga masyarakat terhindar dari marabahaya.
“Ini kan budaya warisan nenek moyang, harus dilestarikan agar tidak hilang. Tarian ini juga untuk keselamatan dan tolak bala agar terhindar dari marabahaya. Kalau tidak dilaksanakan, khawatir akan terjadi apa-apa di desa kami,” pungkasnya. (ful)










