Inilah Alasan Warga Berebut Air Perasan Kain Kafan Buyut Cungking

oleh -
oleh
Kain kafan sepanjang 100 meter dijemur di sepanjang jalan dengan ketinggian 5 meter. (Foto: arahjatim.com/ful)

Banyuwangi, ArahJatim.com – Menyambut datangnya bulan suci Ramadhan, masyarakat Using di Lingkungan Cungking, Kecamatan Giri, Kabupaten Banyuwangi, menggelar tradisi unik yaitu “Resik Lawon”, Minggu (21/4/2019) siang. Resik lawon merupakan ritual tahunan mencuci dan mengganti kain kafan yang digunakan sebagai penutup petilasan Ki Buyut Cungking, nenek moyang warga setempat.

Ritual yang sudah berjalan sejak ratusan tahun lalu, digelar antara tanggal 10 sampai 15 Ruwah dalam penanggalan Jawa atau pada hari Kamis dan hari Minggu, diawali dengan melepas kain putih yang menutup cungkup di petilasan Ki Buyut Cungking.

Sementara kain kafan yang perlu diperbaiki dijahit ulang oleh warga secara swadaya.

pasang iklan_rev3

Kemudian, kain kafan dibawa menuju sungai Krambatan Banyu Gulung yang berada di Kelurahan Banjarsari untuk dicuci dengan cara dipikul berama-ramai dengan menempuh perjalanan sejauh sekitar 2 kilo meter.

Menariknya, air perasan dari kain kafan tidak langsung dibuang, melainkan malah menjadi rebutan warga yang sudah menunggu di pinggir sungai. Ada yang langsung diminum, ada juga dibawa pulang untuk diminum bersama keluarga di rumah mereka. Karena warga mempercayai air perasan bisa membawa berkah.

”Warga Cungking mempercayai air perasan kain lawon (kafan) dari buyut ini bisa membawa berkah. Biasanya warga membawa botol sendiri dari rumah, kemudian airnya disimpan. Selain diminum, air bisa diusapkan ke bagian tubuh yang sakit. Ada juga warga yang menggunakan air perasan untuk disiramkan ke sawah agar panennya bagus,” ungkap Febri, pemuda asli Lingkungan Cungking.

Setelah diperas, kain lawon atau kafan sepanjang 100 meter lebih tersebut dijemur di sepanjang jalan pada ketinggain lima meter. Selain itu kain harus diikat menggunakan tali tambang hitam yang dibentangkan pada bambu, dengan syarat kain kafan yang dijemur tidak boleh jatuh atau menyentuh tanah.

Salah seorang warga meminum air perasan dari kain kafan Buyut Cungking. (Foto: arahjatim.com/ful)

Jika sudah kering, kain diturunkan dan dibawa kembali ke balai tajuk yang ada di Lingkungan Cungking. Selain sebagai bentuk penghormatan kepada nenek moyang, tradisi resik lawon dilakukan sebagai simbol pembersihan diri sebelum masuk bulan Ramadhan.

Diharapkan dengan digelarnya ritual resik lawon masyarakat mendapatkan berkah dari doa-doa yang dipanjatkan selama ritual.

”Tradisi resik lawon ini merupakan ritual mengganti dan mencuci baju. Mengganti yang kotor untuk diganti dengan yang bersih. Apalagi ini kan sudah menjelang Ramadhan. Diharapkan, sebelum datangnya Ramadhan jiwa dan raga kita menjadi suci. Ini juga sebagai bentuk wujud syukur warga Cungking atas jasa dari buyut kami yakni Ki Buyut Cungking. Semua kegiatan dilakukan secara swadaya dari warga,” kata Jam’I Abdul Gani, Ketua Adat Lingkungan Cungking. (ful)

No More Posts Available.

No more pages to load.