Pamekasan, ArahJatim.com – Dengan beredarnya video viral kecelakaan para pelaku balap liar di berbagai media sosial dan semakin hebohnya aksi balap liar (bali) di kabupaten Pamekasan di berbagai sosial media membuat masyarakat pengguna jalan semakin khawatir jika bepergian pada malam hari.
Bahkan terlihat club sepeda motor yang ada di bumi gerbang salam nampak tidak terdata di kepolisian, terlihat semakin banyaknya motor yang tidak sesuai dengan spesifikasi kelayakan suatu kendaraan bermotor. Nampak dari salah satu club motor di bumi gerbang salam yang sempat mengadakan kegiatan kopdar atau kopi darat ke Madura di salah satu tempat ternama di Pamekasan pada hari Sabtu malam tanggal 28 Mei 2022, semua sepeda motor yang hadir pada saat itu menggunakan knalpot brong dan ban kecil serta tidak memenuhi syarat kelengkapan sepeda motor juga nampak terlihat dari penampilan dan modelnya serta bisa diduga untuk aksi balap liar.
Seluruh club/kelompok motor yang ada di kabupaten Pamekasan ini jika tidak segera di data dimungkinkan akan menjadi pelaku balap liar (bali) bahkan pelaku kriminal seperti yang terjadi di kota-kota besar lainnya
Salah satu pedagang Pentol didaerah gurem, “Semakin menjamurnya komitas motor yang sering memacu kendaraannya saat bergerombol membuat saya resah dan takut apalagi dengan bunyi knalpotnya yang bising serta para peserta Bali, Setiap malam saya berpapasan dengan para pelaku Bali dan bahkan harus mengalah jika balap liar sudah mulai dijalan kabupaten, intinya saya pengguna jalan merasa resah dan tidak nyaman”,ujar relli yang berumah digladak bazar.
“Betul mas setiap malam saya terganggu dan terdampak langsung oleh suara bising knalpot brong balap liar, bahkan terkadang sampai subuh. Wajar jika saya bersama keluarga bahkan Kalapas otomatis terganggu saat akan beristirahat atau mungkin komonitas motor ini blom terdata sama sekali dikepolisian serta tidak jarang para komonitas ini juga terlibat balap liar ,”keluh Leksono Novan KPLP Lapas 2A sekaligus warga dijalan Kabupaten.
“Saya menilai komonitas motor hanya 40% yang sesuai standart keorganisasian serta kelengkapan motornya. Semua itu bis kita jumpai dalam keseharian apalagi kalau malam Minggu banyak komonitas motor yang menggunakan ban sepeda(kecil), kenalpot brong, tanpa helm bahkan motornya sudah tidak memenuhi standart sebuah motor”, tegasnya.
“Semoga komunitas motor yang ada diPamekasan segera terwadahi dan mendapatkan binaan dari pihak terkait. Saya yakin pihak terkait bisa kembali menjadikan Pamekasan kota yang kondusif serta tidak menjadi kota penuh akan geng motor dan balap liar,” imbuhnya.
Sementara Ucik salah satu warga dijalan Bahagia, “Saya juga resah atas adanya balap liar, karena semakin jadi dan setiap malam. Saya juga tergabung di komunitas R2 dan R4 tapi tidak seperti komunitas sekarang ini yang rata rata kelengkapan motornya kurang, ban kecil, tanpa spion, memakai knalpot borong, ketika berkonvoi terlalu arogan dan kebanyakan ikut balap liar,”imbuhnya.(ndra)










