Kediri, ArahJatim.com – Menanggapi isu miring mengenai kerusakan lingkungan akibat aktivitas penambangan di aliran Sungai Brantas, Ketua Paguyuban Penambang Pasir Tradisional Semampir-Mojoroto, Bapak Marlan (53), angkat bicara, Selasa (12/5)2026). Ia menegaskan bahwa aktivitas penambangan di wilayahnya dilakukan secara turun-temurun dengan metode manual tanpa bantuan mesin penyedot.
Tradisi Turun-Temurun Selama Puluhan Tahun
Marlan, yang merupakan warga asli Kelurahan Semampir, menjelaskan bahwa profesi penambang pasir manual di wilayah ini bukanlah hal baru. Aktivitas ini telah berlangsung selama lebih dari 30 tahun dan kini telah memasuki generasi kelima.
”Ini adalah warisan turun-temurun. Saya sendiri sudah 30 tahun menggeluti ini, bahkan sudah generasi ke-5. Kami sangat menjaga tradisi dan kelestarian sungai karena ini mata pencaharian kami,” ujar Marlan saat ditemui di lokasi penambangan.
Tegaskan Tidak Ada Penggunaan Mesin (Mekanik)
Terkait adanya pemberitaan atau isu yang menyebutkan penggunaan mesin penyedot yang berpotensi merusak fondasi jembatan dan ekosistem sungai, Marlan memberikan klarifikasi tegas. Menurutnya, terdapat 8 titik penambangan dari wilayah Semampir hingga Mojoroto yang semuanya beroperasi secara manual.
”Di sini tidak ada mekanik (mesin). Semuanya murni manual. Jika ada oknum yang nekat membawa mesin ke sini, para penambang sendiri yang akan menolak dan memberontak,” tegasnya.
Ia menjelaskan bahwa alat yang digunakan hanyalah alat tradisional sederhana seperti:
- Songkro (alat angkut pasir).
- Paco/Cangkul.
- Donak.
- Sistem Selam: Penambang menyelam langsung ke dasar sungai untuk mengambil pasir.
Adapun mesin yang terlihat pada perahu, Marlan menjelaskan bahwa mesin tersebut hanya berfungsi sebagai penggerak transportasi perahu dari tengah ke pinggir sungai, bukan untuk menyedot pasir.
Menyerap Ratusan Tenaga Kerja Lokal
Aktivitas penambangan manual ini menjadi tumpuan ekonomi bagi ratusan keluarga. Berdasarkan data paguyuban, terdapat sekitar 300 hingga 400 tenaga kerja yang menggantungkan hidup di 8 titik penambangan tersebut.
”Upah mereka rata-rata Rp60.000 hingga Rp80.000 per hari jika cuaca cerah. Kalau hujan, kami tidak berani turun, keselamatan adalah prioritas,” tambahnya.
Bantu Jaga Lingkungan dan Bersihkan Sampah
Alih-alih merusak, Marlan mengklaim kehadiran penambang manual justru membantu menjaga kebersihan aliran sungai. Para penambang secara rutin meminggirkan sampah-sampah yang tersangkut di area penambangan agar aliran air tetap lancar.
Marlan berharap pihak media dan Aparat Penegak Hukum (APH) tidak salah paham dalam mengartikan aktivitas mereka. Ia mengimbau agar oknum-oknum yang menyebarkan informasi tidak benar dapat melihat langsung proses kerja di lapangan.
”Kami minta klarifikasi agar kami tidak dibenturkan dengan APH. Kami ini membantu masyarakat dan menjaga lingkungan. Silakan lihat langsung ke tengah sungai bagaimana proses manual kami bekerja,” tutup Marlan. (das)






