DERAP suara angin mulai menemani perjalan panjang kami. Sejauh 147 kilometer jarak yang harus kami tempuh untuk sampai ke tujuan. Ya, kota penghasil pisang menjadi tujuan kami menjalankan tugas pendampingan kepada siswa yang dikeluarkan secara paksa oleh pihak sekolah. Usianya baru menginjak 16 tahun, tak cukup pantas untuk bertanggungjawab sebagai manusia dewasa.
Kedua orangtuanya tak terima, mengadu kemanapun, namun tak ada yang mau menghiraukan. Ceritanya usang sebagai masyarakat kecil. Namun ceritanya kami tampung saat ia membawa hak anak dalam permasalahan ini. Sebuah hal yang cukup fundamental untuk diperjuangkan. Pendidikan anak dan generasi bangsa yang harus diperhatikan.
Toyota Crown kami pun mulai mengaung pertanda ia siap mengangkut kami bertolak ke Lumajang. Mobil dengan tenaga 3.000 cc itu siap menerabas perjalanan yang ada. Kami rasa itu cukup panjang untuk ukuran mobil tua.
Bukannya tanpa masalah. Langit mulai mengamuk dengan kilatan cahayanya. Angin mulai berhembus kencang saat kami memasuki tol Sidoarjo. Kaca mobil tak bisa ditutup akibat kelistrikan di jendela kaca tak bisa diajak kompromi. Kami tahu ini akan hujan.
Jarum jam berhenti di angka 7, berharap ada bengkel buka. Tak lucu rasanya bila kami kehujanan saat mengendarai mobil. Namun itu semua bisa teratasi seiring roda mobil berjalan. Untung saja tak sampai masuk bengkel.
Sekitar 3 jam perjalanan kami tempuh. Crown melaju dengan kecepatan lumayan tinggi. Tak mengapa, mobil ini dibuat untuk melibas jalanan tol.
Tak berselang lama kami pun sampai. Lelah rasanya, namun terbayar saat senyum warga sekitar menyambut kedatangan kami. Terutama tuan rumah, yang saat itu kami kunjungi. A’ak Abdullah Al Kudus, laki-laki kharismatik yang selama ini mengampu Gusdurian Lumajang.
“Ko lama,? Berangkat jam berapa?” Tanyanya mengkhawatirkan perjalanan kami. Padahal kami sempat salah jalan saat memasuki tol di Sidoarjo yang mamaksa kami harus kembali ke Surabaya.
Cuaca menyambut lumayan dingin. Kutanya memang ada gunung di sekitar rumah Gus A’ak. Begitu kami biasa memanggilnya. “Di sebelah sana ada Gunung Lemongan,” katanya singkat. Gunung dimana menjadi tempat ‘Laskar Hijau’ melakukan penghijauan dan memberikan andil terhadap kelangsungan alam. Pipiku terangkat menandakan gumpahan senyum menghiasi wajah yang sedari tadi menahan kantuk akibat perjalanan.
‘Ngalor-ngidul’ kami berbincang tentang banyak hal. Sembari melepas rindu, kawan-kawan lama di Lumajang mulai silih berganti datang menyambut kedatangan kami. Ramah tamah terjadi, apapun itu, tawa menghiasi pertemuan kami malam itu dengan warga.
Tak terasa waktu sudah menandakan masuk waktu sahur. Iya, kedatangan kami ke Lumajang bertepatan dengan bulan Ramadhan. Kami menyantap makanan yang dihidangkan Gus A’ak. Beberapa potong sayap ayam, serta tempe dan tahu. Suguhan yang begitu istimewa bagi kami.
Tertidur lelap setelahnya, pagi pun harus segera bergegas ke Pengadilan Negeri Lumajang untuk mendaftarkan gugatan yang kami persiapkan selama 2 hari sebelumnya. Gugatan kami layangkan untuk sekolah siswa yang dikeluarkan, beserta lembaga yang menaunginya.
Selesai itu, niat hati ingin mengihatari kota dengan melihat suasananya. Namun apa daya waktu tak mengizinkan. Kami harus bergegas kembali ke rumah Gus A’ak untuk menghadiri kegiatan buka bersama anak-anak yatim di pondok pendaki yang berada di kaki Gunung Lemongan. Tempatnya asri, cukup asyik untuk santai dan beramah tamah dengan orang baru.
Satu per satu anak-anak undangan mulai berdatangan. Lengkap dengan busana muslim yang mereka kenakan. Anggun sekali untuk dilihat.
Kebersamaan juga kekeluargaan terasa saat acara bagi-bagi. Hidangan demi hidangan berdatangan hingga kami selesai dengan semuanya.
Selesai, malam kedua kali ini kami berniat untuk mengunjungi sekaligus menginap di rumah orang tua siswa itu. Ya, kami sepakat untuk memejamkan mata di rumah yang terletak di sebelah jalan raya di kawasan yang sebentar lagi memasuki kota.
Hulu hilir kendaraan melintasi pendengaran kami. Tak mengapa, toh suaranya cukup teralihkan dengan suara musik yang kami putar malam itu. Rentetan musik indie yang menemani malam kami.
Sahur tiba kami bergegas pergi ke pasar. Mas Maksum, pemilik rumah mengajak kami untuk menikmati hidangan sahur berupa rawon dan nasi babat di pasar dekat rumah. Mungkin 10 menit saja waktu yang kami butuhkan untuk sampai di warung yang cukup sederhana. Tapi makanannya membuat lidah bahagia.
“Mas, nasi babatnya juga enak. Sampean cobain saja. Kalau mau saya bilang ya,” tawarnya kepadaku mengagetkan padanganku kepada orang-orang pasar. “Boleh mas, saya manut, yang penting makan,” jawabku.
Sepotong babat, sepotong usus, dan entah apapun itu, masih banyak potongan jeroan yang tersaji di atas piring berwarna putih itu. Nasinya diletakkan di tengah beriringan dengan lauk pauk yang siap disantap. “Mak, teh hangat 3 ya, ini saya ambil air mineral dua,” selaku saat makan.
Kembali ke rumah, setelah lantunan musik indie, serial film Amerika menemani malam kami. Film yang menceritakan perpolitikan Amerika.
Hingga waktu Subuh pun datang dan memaksa kedua mata kami terpejam. Mata yang sedari pagi sudah bekerja cukup keras melakukan aktifitasnya.
Kami terbangun saat matahari sudah bercokol selama 4 jam sejak terbitnya di ufuk timur. Bergegas berkemas untuk pulang ke Surabaya. Namun kami berniat mengunjungi Surya, teman lama kami yang kini memiliki usaha perikanan di Ranu. Tak jauh dari rumah semalam yang kami tiduri.
Berbincang dengan Surya di tepian ranu membuat kami antusias. Getek-getek mulai didayung oleh penggunanya menyeberangi danau yang sedari tadi banyak burung menyapa. Anginnya semilir lembut menghiasi siang itu bersama dengan mendungnya langit.
‘Kring-kring’ telefon berbunyi, Gus A’ak menghubungi kami. “Mampir rumah sebelum pulang, rembukan dulu,” katanya singkat. Niat kami memang sekaligus berpamitan untuk bertolak ke Surabaya. Kami rindu Surabaya.
Perbincangan lama hingga melewati waktu yang telah ditargetkan. Kami segera berpamitan sebelum macet menghantui perjalanan kami. Tidak enak rasanya kalau harus bertemu dengan kemacetan di jalan.
Jam 3 kami menginjak gas, hingga pukul setengah 5 kami baru sampai di gerbang tol keluar Waru. Seperti cepat sekali saya berada di balik kemudi.
Perjalanan itu sekaligus memulai perjuangan kami membela hak pendidikan seorang anak, sekaligus berkunjung ke rumah kawan lama di desa.












