Tulungagung, ArahJatim.com – Pelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK) di sekolah sering kali diidentikkan dengan materi olahraga modern yang kompetitif seperti sepak bola, bola voli, atau basket. Sayangnya, pendekatan yang terlalu berorientasi pada keterampilan teknis ini kerap membuat sebagian siswa merasa kurang termotivasi, terutama mereka yang tidak menyukai olahraga prestasi.
Melihat tantangan tersebut, tim Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) dari Program Studi S1 Ilmu Keolahragaan, Fakultas Ilmu Kesehatan dan Keolahragaan (FIKK) Universitas Negeri Surabaya (UNESA) bergerak mengambil langkah nyata. Mereka menggelar pelatihan dan pendampingan khusus bagi guru-guru yang tergabung dalam Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) PJOK SMA di Kabupaten Tulungagung.
Kegiatan yang berfokus pada pemanfaatan permainan tradisional sebagai olahraga rekreasi ini berlangsung dengan penuh antusias di SMA 1 Boyolangu, Jl. Ki Mangun Sarkoro, Dusun Krajan, Beji, Kecamatan Boyolangu, Tulungagung, pada Sabtu (18/7/2026).
Mengubah Paradigma: Dari Prestasi Menuju Gaya Hidup Aktif
Ketua Tim PKM UNESA, Prof. Dr. Andun Sudijandoko, M.Kes., menjelaskan bahwa pelatihan ini bertujuan untuk membuka paradigma baru dalam pembelajaran PJOK. Menurutnya, esensi PJOK di sekolah tingkat menengah seyogianya tidak hanya berfokus pada sport performance (prestasi olahraga), melainkan bergeser ke arah physical literacy, active lifestyle, enjoyment, dan lifelong participation (partisipasi aktif sepanjang hayat).
”Kami ingin membantu para guru agar bisa menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, inklusif, dan sukarela melalui olahraga rekreasi,” ujar Prof. Andun di sela-sela kegiatan wawancara. “Permainan tradisional adalah jawaban yang sangat tepat karena karakteristiknya yang murah, mudah dilaksanakan, sarat nilai kearifan lokal, serta berdampak holistik bagi perkembangan fisik, psikologis, hingga sosial anak didik.”
Pelatihan ini diikuti oleh 40 guru olahraga SMA dari berbagai wilayah di Kabupaten Tulungagung. Seluruh peserta diajak untuk tidak hanya memahami teori, tetapi juga mempraktikkan langsung berbagai permainan tradisional seperti gobak sodor, bentengan, engklek, tarik tambang, hingga boy-boyan.
Integrasi Karakter Profil Pelajar Pancasila lewat Modifikasi Permainan
Tidak sekadar bermain, tim PKM UNESA juga membekali para guru kemampuan untuk memodifikasi aturan permainan tradisional. Modifikasi ini penting agar permainan bisa disesuaikan dengan usia siswa, jumlah peserta, luas lapangan, hingga sarana dan prasarana yang dimiliki masing-masing sekolah.
Menariknya, pemanfaatan permainan tradisional ini diintegrasikan secara langsung untuk membentuk karakter Profil Pelajar Pancasila, contohnya:
- Gobak Sodor: Melatih kelincahan dan nilai Gotong Royong.
- Bentengan: Mengasah strategi tim dan kemampuan Bernalar Kritis.
- Engklek: Menumbuhkan keseimbangan fisik serta kemandirian siswa.
- Tarik Tambang: Menguatkan fisik sekaligus membangun aspek Kolaborasi.
Output Nyata untuk Pembelajaran di Kelas
Melalui pendampingan yang intensif, luaran atau output yang diharapkan dari kegiatan PKM ini sangat konkret. Selain memahami esensi olahraga rekreasi dan mampu memodifikasi permainan, para guru ditargetkan dapat menyusun modul ajar PJOK berbasis permainan tradisional secara mandiri.
Lima langkah implementasi pun disiapkan untuk diterapkan di sekolah, mulai dari identifikasi materi sesuai kurikulum, pemilihan permainan, modifikasi aturan, penyusunan instrumen asesmen yang relevan, hingga evaluasi pembelajaran.
Dengan adanya pelatihan ini, permainan tradisional diharapkan tidak lagi dianggap sebagai masa lalu yang usang, melainkan menjadi media pembelajaran modern yang menyenangkan, inklusif, dan penuh makna bagi seluruh siswa di sekolah. (das)










