Kediri, ArahJatim.com – Suasana hangat dan adem ayem menyelimuti pelataran Pasar Bandar Ngalim, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri pada Sabtu pagi (6/6/2026). Di bawah bentangan terpal sederhana, sekitar 100 warga yang didominasi oleh para lansia tampak antusias mengikuti jalannya Reses Anggota DPRD Kota Kediri yang digelar oleh Ketua Fraksi Partai Golkar, Imam Wihdan Zarkasyi, ST., MM.
Mengusung tema besar “Kolaborasi – Transformasi”, serap aspirasi masa persidangan II tahun anggaran 2026 ini sengaja ditempatkan langsung di jantung aktivitas ekonomi rakyat. Tujuannya satu: mendengar jeritan hati para pedagang tradisional yang kini tengah berjuang bertahan hidup di tengah gempuran zaman.
Pasar Bandar Ngalim Bersiap Revitalisasi Tahun Depan
Kondisi Pasar Bandar Ngalim saat ini memang memerlukan perhatian khusus. Dari total 44 kios dan los yang tersedia, tercatat hanya ada sekitar 12 pedagang aktif yang konsisten menggelar dagangannya setiap hari. Sebagian besar pedagang terdahulu sudah sepuh, dan anak-cucu mereka enggan meneruskan usaha di pasar tradisional.
Merespons kondisi tersebut, Direktur Utama Perumda Pasar Joyoboyo Kota Kediri, Djauhari Luthfi, SE., SH., yang hadir langsung dalam acara, membawa angin segar bagi warga.
”Insyaallah, tahun depan Pasar Bandar Ngalim ini masuk dalam rencana revitalisasi kami. Kami ingin pasar tradisional itu nyaman dikunjungi. Angan-angan saya, bagaimana caranya membuat anak-anak muda, anak-cucu kita itu senang diajak ke pasar, bukan cuma ke mall,” ujar Djauhari Luthfi di hadapan warga.
Langkah Perumda Pasar Joyoboyo ini bersambut gayung dengan program pemerintah kelurahan setempat. Lurah Bandar Kidul, Herro Sudarmawan, S.E., mengungkapkan kesiapannya untuk berkolaborasi pasca-acara reses ini.
”Setelah ini, saya bersama LPMK, LKK, dan tokoh masyarakat akan mengumpulkan komunitas seni di Bandar Kidul. Kita rancang event menarik di sini. Tahun depan, memanfaatkan anggaran Dana Kelurahan (Dakel), kami berencana mengadakan ‘Pasar Sore Seikat’ sebulan sekali di Gang 8,” papar Herro.
Herro juga menambahkan, akan ada stan spesial gratis sebagai bentuk apresiasi bagi 12 pedagang setia yang selama ini bertahan menghidupi Pasar Bandar Ngalim.
Dialog Hangat Pedagang: Dari Keluhan Infrastruktur hingga Transparansi Lapak
Sesi dialog berlangsung interaktif dan humanis. Yudi, salah seorang pedagang ayam setempat, mengutarakan keluh kesahnya mengenai kondisi pasar yang seolah hidup segan mati tak mau.
”Sudah lama sekali katanya mau diperbaiki, tapi sampai sekarang belum ada tindakan nyata. Kami mohon agar pasar ini segera dibenahi, Pak,” keluh Yudi sembari menanyakan kejelasan sistem dan biaya untuk mendapatkan lapak agar tidak ada pungutan liar (pungli).
Menanggapi hal tersebut, Dirut Perumda Pasar Joyoboyo langsung memberikan jawaban tegas dan transparan di depan Anggota Dewan. Luthfi memastikan tidak ada biaya siluman bagi pedagang yang ingin berjualan.
”Biayanya resmi dan sangat terjangkau, Pak Yudi. Sewa jasa pelayanan hanya Rp150.000 per tahun. Untuk harian, retribusi Los hanya Rp1.000 sampai Rp1.500, sedangkan Kios Rp2.000 hingga Rp3.000 sesuai ukuran. Jika ada karyawan saya yang menarik lebih dari itu, hubungi saya langsung. Saya pastikan di depan Pak Imam, tidak ada biaya lain-lain,” tegas Luthfi sembari memperkenalkan Pak Slamet selaku koordinator pasar setempat sebagai tempat pendaftaran.
Tak hanya Yudi, beberapa emak-emak pedagang juga menyampaikan aspirasinya secara bergantian:
- Bu Sukarti: Meminta adanya pengadaan dan perbaikan fasilitas kunci pengaman kios demi kenyamanan bersama.
- Bu Lis (Pedagang Ikan): Memohon agar akses jalan pasar yang berlubang segera diaspal atau diperbaiki.
- Bu Suparmi (Pedagang Pisang): Mengusulkan agar jalur akses di dalam pasar diperlebar guna memudahkan mobilitas pembeli.
Pihak Perumda Pasar Joyoboyo berjanji akan membenahi fasilitas tersebut secara bertahap menggunakan anggaran mandiri perusahaan.
Imam Wihdan Zarkasyi: Pembangunan Harus Berangkat dari Keinginan Masyarakat
Mendengar seluruh keluh kesah dan harapan warga, Ketua Fraksi Partai Golkar DPRD Kota Kediri, Imam Wihdan Zarkasyi, menegaskan bahwa esensi dari reses adalah menjemput bola aspirasi langsung di lapangan, bukan sekadar duduk di balik meja dinas.
”Membangun gedung pasar itu mudah, tapi kalau gedungnya megah lalu pedagang dan pembelinya tidak ada, kan percuma. Oleh karena itu, revitalisasi tahun depan harus komprehensif, melibatkan Dinas Perdagangan dan UMKM untuk menumbuhkan ekosistemnya,” tutur Imam.
Ia berkomitmen mengawal penuh proses penganggaran dan pengawasan program pembangunan pasar ini agar benar-benar menyejahterakan masyarakat sekitar. Melalui jargon Kolaborasi – Transformasi, Imam mengajak seluruh pihak, mulai dari level kelurahan, BUMD, hingga masyarakat luas untuk saling bergandengan tangan.
”Ayo warga sekitar sini, pelan-pelan kita makmurkan pasar kita sendiri. Kalau belanja, utamakan di tetangga terdekat atau di pasar tradisional terdekat. Hubungan ekonomi ini harus kita rawat bersama agar perekonomian masyarakat bawah terus tumbuh bergairah,” pungkasnya. (das)











