JEMBER, ArahJatim.com – Di tengah bayang-bayang ketidakpastian global yang belum sepenuhnya mereda, denyut nadi perekonomian di kawasan ujung timur Pulau Jawa justru berdetak semakin kencang dan penuh optimisme. Wilayah Sekarkijang—yang meliputi Kabupaten Jember, Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, dan Lumajang—menunjukkan taji dengan performa ekonomi yang kian solid.
Pada triwulan I 2026, kawasan ini mencatatkan pertumbuhan ekonomi yang impresif sebesar 6,06 persen secara year on year (yoy). Angka yang membanggakan ini tidak hanya melampaui pertumbuhan ekonomi Jawa Timur yang berada di angka 5,96 persen, melainkan juga sukses melompati rata-rata pertumbuhan nasional sebesar 5,61 persen.
Capaian strategis ini mengemuka dalam forum “Morning Insight Ngopi dan Diskusi Ekonomi serta Kebijakan Bank Indonesia” yang diinisiasi oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Jember, Selasa (7/7/2026). Diskusi interaktif yang berlangsung hangat di Gedung Serbaguna Bank Indonesia Jember ini mempertemukan para regulator, akademisi, dan praktisi usaha guna membedah arah angin ekonomi regional sepanjang tahun berjalan.
Tiga Pilar Utama Penopang Ketahanan Regional
Kepala KPwBI Jember, Iqbal Reza Nugraha, memaparkan bahwa ketahanan ekonomi Sekarkijang yang luar biasa ini dibentuk oleh fondasi domestik yang sangat kuat. Faktor ini krusial mengingat lanskap global saat ini masih diwarnai oleh konflik geopolitik, tekanan inflasi dunia, hingga tren perlambatan perdagangan internasional.
“Pertumbuhan ekonomi Sekarkijang ditopang secara kokoh oleh konsumsi rumah tangga yang terjaga, realisasi investasi yang mengalir positif, serta meningkatnya geliat konsumsi pemerintah. Dari sisi lapangan usaha, sektor pertanian, industri pengolahan, dan perdagangan tetap menjadi tulang punggung utama yang menggerakkan roda ekonomi kawasan,” urai Iqbal secara optimistis.
Jember Memimpin, Banyuwangi Menempel Ketat
Melihat potret spasial antardaerah, dinamika pertumbuhan di kawasan ini bergerak variatif namun berada dalam tren positif yang seragam. Kabupaten Jember sukses mengukuhkan posisinya sebagai motor penggerak utama sekaligus daerah dengan pertumbuhan tertinggi di wilayah Sekarkijang, yakni melejit hingga 6,35 persen.
Posisi kedua ditempel ketat oleh Kabupaten Banyuwangi yang mencatatkan pertumbuhan sebesar 6,14 persen. Sementara itu, Kabupaten Lumajang membuntuti dengan capaian 5,89 persen, disusul oleh Kabupaten Situbondo sebesar 5,50 persen, dan Kabupaten Bondowoso yang tumbuh stabil di angka 5,42 persen.
Inflasi Terkendali, Waspadai Dinamika Harga Pangan Akhir Tahun
Kabar baik tidak hanya datang dari akselerasi pertumbuhan, melainkan juga dari sisi stabilitas harga. Hingga Juni 2026, tingkat inflasi di wilayah kerja Bank Indonesia Jember dilaporkan berada dalam kondisi yang sangat aman dan terkendali. Laju inflasi tahunan Kabupaten Jember tercatat sebesar 3,13 persen (yoy), sedangkan Banyuwangi tampil lebih adem di angka 2,60 persen (yoy).
Kedua angka tersebut masih berada di dalam koridor target sasaran inflasi nasional, yaitu 2,5±1 persen. Hebatnya lagi, realisasi ini terhitung lebih rendah jika disandingkan dengan rata-rata inflasi Jawa Timur maupun tingkat inflasi nasional secara umum.
Kendati demikian, KPwBI Jember mengingatkan semua pihak agar tidak lengah. Terdapat potensi tekanan inflasi yang jamak terjadi menjelang akhir tahun, terutama didorong oleh komoditas pangan esensial (volatile foods) seperti cabai rawit, bawang merah, telur ayam ras, serta daging ayam ras. Sebaliknya, angin segar berupa deflasi musiman diprediksi akan menyapa pada periode Agustus hingga September, seiring melimpahnya pasokan komoditas hortikultura akibat panen raya.
Navigasi Bisnis 2026: Intuitif Saja Tidak Cukup, Harus Berbasis Data
Menanggapi peluang dan tantangan tersebut, dosen sekaligus peneliti senior dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jember, Adhitya Wardhono, Ph.D., mengingatkan para pelaku usaha agar memperluas cakrawala pandang mereka. Di era yang dinamis ini, pebisnis lokal tidak lagi bisa hanya mengandalkan insting atau sekadar membaca situasi di tingkat daerah saja.
Menurut Adhitya, tekanan geopolitik global, fluktuasi harga energi, inflasi dunia, hingga arah kebijakan suku bunga perbankan secara langsung akan memengaruhi rantai pasok: mulai dari biaya produksi, akses pembiayaan, hingga daya beli masyarakat di tingkat akar rumput. Oleh sebab itu, strategi bisnis saat ini dituntut untuk jauh lebih adaptif dengan mengedepankan aspek efisiensi, inovasi, digitalisasi, dan kolaborasi.
“Keputusan usaha itu harus berbasis data (data-driven decision). Pertumbuhan ekonomi makro memang memberikan angin segar dan rasa optimisme, tetapi pelaku usaha juga harus jeli memperhatikan pergerakan inflasi, realisasi biaya produksi, daya beli masyarakat, hingga pergerakan suku bunga agar langkah investasi yang diambil tetap presisi dan tidak salah langkah,” jelas Adhitya.
Agroindustri dan Digitalisasi: Kunci Emas Masa Depan
Sebagai rekomendasi strategis, Adhitya menilai Jember dan sekitarnya memiliki modal yang lebih dari cukup untuk mengembangkan ekonomi berbasis nilai tambah tinggi. Sektor-sektor unggulan seperti agroindustri (hilirisasi pertanian), perdagangan, jasa pendidikan, layanan kesehatan, pariwisata, hingga pemberdayaan UMKM adalah ladang emas yang masih bisa dioptimalkan secara masif.
Di sinilah digitalisasi memegang peran sebagai katalisator utama. Mulai dari pemanfaatan sistem pembayaran digital yang modern, pencatatan laporan keuangan berbasis aplikasi, hingga penetrasi pemasaran digital (digital marketing) global, semuanya menjadi modal wajib bagi pelaku usaha lokal agar mampu bersaing, naik kelas, dan tetap tangguh di tengah kompetisi pasar yang semakin ketat.
Melalui sinergi yang harmonis antara Bank Indonesia sebagai regulator, kalangan akademisi sebagai penyedia riset, serta para praktisi yang bergerak di lapangan, momentum emas pertumbuhan ekonomi Sekarkijang diharapkan dapat terjaga dengan konsisten. Dengan demikian, target untuk mewujudkan stabilitas harga yang kokoh serta ekonomi regional yang tangguh, inklusif, dan berkelanjutan bukan lagi sekadar impian di atas kertas. (nsl)












