Unjuk Rasa Pro-Kontra Tambang Emas PT BSI, Dua Kubu Sempat Bersitegang

by -
https://live.staticflickr.com/65535/49137288898_d242b59b6e_b.jpg
Massa pro-tambang berunjuk rasa di kantor Kecamatan setempat. Mereka memprotes kebijakan Kepa Desa Sumberagung, Vivin Agustin yang mengeluarkan Surat Rekomendasi Pencabutan Izin tambang emas PT BSI. (Foto: arahjatim.com/ful)

Banyuwangi, ArahJatim.com – Ratusan warga Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi menggelar unjuk rasa damai di kantor Kecamatan setempat. Aksi damai dilakukan sebagai bentuk dukungan atas investasi dan program pemberdayaan serta pembangunan dari perusahaan tambang emas PT Bumi Suksesindo (BSI), Kamis (28/11/2019).

Menurut perwakilan massa, Budi Santoso, unjuk rasa dilakukan lantaran warga kecewa dengan kebijakan Kepala Desa (Kades) Sumberagung, Vivin Agustin yang mengeluarkan Surat Rekomendasi Pencabutan Izin tambang emas PT BSI bernomor 540 tertanggal 25 November 2019. Padahal, sesuai Undang-Undang No 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, terkait perizinan tambang sudah jelas menjadi kewenangan Pemerintah Provinsi.

“Surat Kepala Desa Sumberagung Nomor 540/247/429.515.02719 yang diterbitkan kepada warga kontra-tambang dan yang dikirim ke Gubernur Jawa Timur sudah dicabut atau dibatalkan. Surat berstempel basah dan sudah ditandatangani oleh Kades Vivin,” kata Budi Santoso.

Budi menambahkan, perbuatan Vivin disinyalir sarat kepentingan. Itu terlihat dari sikapnya dengan mudah menuruti keinginan kalangan kelompok tolak tambang. Sebab jumlah massa kontra-tambang lebih besar dibanding masyarakat pro-tambang.

Sebaliknya massa dari kubu tolak-tambang juga melakukan aksi serupa di depan kantor Desa Sumbergung dengan membentangkan spanduk sepanjang 50 meter bertuliskan penolakan aktivitas pertambangan. (Foto: arahjatim.com/ful)

Selain itu ada sekitar 1.500 warga ring satu di sekitar pertambangan dan sejumlah daerah di Banyuwangi yang bekerja di PT BSI. Seharusnya kondisi tersebut bisa menjadi bahan pertimbangan, termasuk ribuan warga Desa Sumberagung yang sudah menerima manfaat program CSR (Corporate Social Responsibility) yang disalurkan oleh PT BSI.

“Saya tahu kepentingan masing-masing kelompok berbeda. Keberadaan saya di tengah-tengah mereka sebagai fasilitator agar tidak terjadi chaos di kedua belah pihak. Saya berharap setelah ini warga Desa Sumberagung hidup rukun meski tinggal di area pertambangan,” tambah Budi.

Sementara itu, di saat bersamaan, massa tolak tambang juga menggelar aksi di depan kantor Desa Sumbergung dengan membentangkan spanduk sepanjang 50 meter bertuliskan penolakan aktivitas pertambangan. Untung saja aparat sigap dan membatasi area aksi dua kelompok berbeda kepentingan itu agar tidak terjadi bentrok. (ful)