Tiga Terdakwa di Bawah Umur Kasus Perkosaan Divonis Berbeda

oleh -

Bangkalan, ArahJatim.com – Tiga orang terdakwa di bawah umur yang tersandung kasus pemerkosaan divonis hukuman berbeda oleh majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Bangkalan. Ketiganya diantaranya dua terdakwa kasus pemerkosaan di Kecamatan Kokop serta satu orang di Kecamatan Modung.

Dua terdakwa berinisial J (14) divonis 3 tahun penjara, AR (17) divonis 3,6 tahun. Keduanya merupakan pelajar dari Tanjung Bumi yang terlibat dalam kasus pemerkosaan bergilir 8 orang.

Sementara S (14) terdakwa kasus pemerkosaan di Kecamatan Modung divonis 2,5 bulan penjara, jauh lebih rendah dari 2 terdakwa di bawah umur kasus Kokop.

Wakil Ketua PN Bangkalan, Baginda Rajoko Harahap, SH,MH membenarkan jika vonis ketiga terdakwa di bawah umur kasus perkosaan Kokop dan Modung berbeda-beda.

“Info dari hakimnya, pelaku pemerkosaan Modung itu pelaku dan korban sama-sama dewasa. Bukan anak di bawah umur,” jelasnya. Senin (31/8/2020).

Menurutnya, kasus pemerkosaan di Kokop hanya berbeda pada peran, jadi hukuman sesuai dengan hasil persidangan. Sementara kasus pemerkosaan di Modung dituntut 4 bulan penjara dan divonis 2 bulan 15 hari.

“Begitu juga waktu di persidangan dapat dibuktikan jika korban bukan di bawah umur,” imbuh Baginda.

Sedangkan Kepala Sesi Pidana Umum (Kasipidum) Kejaksaan Negeri (Kejari) Bangkalan, Choirul Arifin mengatakan bahwa kasus pemerkosaan yang melibatkan 3 terdakwa di bawah umur divonis berbeda meskipun terlibat dalam kasus yang sama.

Dalam kasus tersebut dirinya sudah menuntut sesuai fakta persidangan, baik yang meringankan maupun yang memberatkan. Sedangkan di kasus Modung, yang meringankan adalah hubungan korban dengan pelaku ada hubungan asmara dan fakta berkas dan persidangan yang berbeda.

“Dari pihak keluarga sudah memaafkan pelaku. Itu pertimbangan kami. Serta hal itu merupakan bagian yang meringankan pelaku,” papar Choirul.

Sedangkan korban di Modung, diketahui sudah menginjak dewasa 18 tahun ke atas, berbeda dengan berkas sebelumnya yang dinyatakan masih dibawah umur.

Pernyataan itu diperkuat oleh pernyataan orang tua korban yang menyatakan putrinya sudah 18 tahun dibuktikan dengan akte kelahiran di persidangan.

“Begitu juga penasehat hukum pelaku membuktikan juga jika korban lebih dari 18 tahun, ada janji pula jika putrinya ini mau dinikahi dan berdamai, itu yang meringankan. Kita sudah berusaha membuktikan. Makanya divonis 2 bulan, 15 hari,” cetus Choirul.

Sementara itu Kuasa Hukum terdakwa S asal Modung, M. Fahrillah SH, menuturkan bahwa kliennya dikenakan pasa 290 KUHP. Dalam persidangan pembuktian korban sudah dewasa karena sudah lebih dari 18 tahun.

Dalam kasus ini, lanjut Fahri tak selalu yang perempuan yang jadi korbannya. Akan tetapi laki-laki juga harus dipikirkan, apalagi masih di bawah umur.

“Anak yang di bawah umur ini adalah pelaku, korbannya sudah dewasa. Itu terungkap dalam fakta persidangan,” tutur Fahri.

Menset masyarakat dalam kasus seperti ini laki-laki selalu yang dipojokkan. Sedangkan fakta di persidangan pelaku dan korban mengakui sudah berkali-kali berhubungan, yang artinya pelaku dan korban mau sama mau.

Berdasakan UU perlindungan anak, korban itu bukan hanya perempuan tetapi ada korban laki-laki. Tetapi stigma berpikir masyarakat tidak pernah melindungi anak laki-laki.

“Lalu bagaimana dengan kasus di Modung, si perempuan masuk usia dewasa, sedang laki-laki di bawah umur. Apalagi didasari mau sama mau. Terdakwa dituduh mencabuli gadis di bawah umur, tetapi tidak terbukti karena usianya sudah dewasa,” tambah Fahri.

Dilain pihak, Ahmad Saiho, penasehat hukum kasus dua pelaku pemerkosaan di Kokop tidak bisa memberikan keterangan terlalu banyak. Disebabkan kasus ini merupakan kasus asusila di bawah umur.

“Jika mau diliput ke media, kami mau izin terlebih dahulu. Karena ini kasus asusila di bawah umur. Tetapi untuk vonis pada pelaku sudah sesuai dengan kronologi kejadian,” singkatnya. (fat/rd/fm)