Terdapat Batu Petilasan Yang Diyakini Sebagai Tempat Pertemuan Para Wali, Pantai Tengket Ditolak Warga

oleh -

Bangkalan, Arahjatim.com – Wisata Pantai Tengket, Desa Maneron, Kecamatan Sepulu masih beroperasi meskipun mendapat penolakan karena tempat yang dikeramatkan oleh masyarakat serta tokoh agama setempat.

Pasalnya sekitar 50 hingga 100 meter dari area destinasi wisata pantai tersebut terdapat petilasan peninggalan almarhum (Alm) RKH. Kholilurrohman cicit Syaikhona Kholil Bangkalan yang dipercaya masyarakat sekitar sebagai salah satu peninggalan tokoh yang dipercaya masyarakat sebagai Waliyullah.

Salah satu tokoh agama Desa Maneron, Kiai Ayyub menjelaskan bahwa tidak jauh di area destinasi pantai tersebut terdapat petilasan peningalan Alm. Ra Lilur yang dijaga serta dipercaya oleh masyarakat sebagai tempat yang dikeramatkan.

“Sekitar 50 hingga 100 meter dari pantai ada batu petilasan Ra Lilur yang dipercaya kami sebagai tempat yang sakral. Dari itu untuk menjaga kesakralan kami menolak dijadikan tempat wisata,” katanya.

Dirinya juga bercerita wasiat dari sesepuh Desa Maneron Alm. Kiai Ismail berpesan untuk Pantai Tengket dijaga jangan sampai dijadikan tempat ramai karena dikhawatirkan dijadikan tempat maksiat serta untuk merawat petilasan dan dijaga kemurnian juga kesakralannya.

Tak hanya itu, Kiai Ayyub juga bercerita bahwa sejak dulu ada pihak yang sudah beberapa kali berniat membuka wisata Pantai Tengket tersebut. Namun selalu mendapat penolakan dari warga serta tokoh masyarakat.

“Bukan hanya kali ini saja, sudah dari dulu juga ada yang berniat membukanya namun tetap ditolak oleh warga, tokoh agama serta sesepuh desa. Makanya dari dulu selalu gagal dibuka,” ujar Kiai Ayyub.

Penolakan yang dilakukannya, imbuh Kiai Ayyub bukan semata-mata untuk memutus mata pencarian seseorang. Akan tetapi ada adat yang dijaga oleh tetua desa untuk dijaga.

“Saya tidak melarang orang dalam mencari rejeki. Namun ada kearifan lokal yang dijaga oleh tetua desa dan dipercaya sejak dulu. Jika sudah bertentangan dengan kearifan lokal serta nilai religiusitas setempat yang jelas dilanggar maka kami akan tetap melakukan penolakan,” imbuhnya.

Dirinya berharap pada pemerintah agar menjaga konsistensinya dalam menjaga kesakralan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Begitupun sisi religiusnya, jangan sampai dirusak demi keuntungan salah satu pihak.

“Kepercayaan masyarakat pada leluhur patut dipertahankan. Peninggalan Ra Lilur yang kami percaya sebagai Waliyullah mestinya dijaga supaya religius tetap tertanaman pada mindset masyarakat,” harap Kiai Ayyub.

Senada dengan Ayyub, salah satu tokoh masyarakat Maneron juga menolak dengan dibukanya destinasi Pantai Tengket. Pasalnya selain dijaga kesakralannya juga tidak disertai dengan komunikasi yang efektif dengan tetua desa serta tokoh agama.

“Dulu sekitar tahun 1990-an pernah ada yang berembuk untuk membukanya, namun tetap tidak disepepakati tak pernah ada yang menyetujui karena ada petilasan yang kami jaga,” tuturnya.

Sangat disayangkan pantai yang dijaga kearifannya, sekarang ada pihak yang membuka. Sayangnya lagi pihak pengelola yang membukanya secara sepihak didanai oleh pihak luar desa Maneron.

“Saya tetap menolak, segera tutup saja. Keberadaan destinasi itu menghilangkan kerifan lokal yang kami jaga. Banyaknya pengunjung identik dengan tempat pacaran,” tambah Mahfud.

Sedangkan Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Desa Maneron, Imam Faisol memaparkan bahwa tokoh pemuda, sesepuh, serta tokoh agama sepakat untuk menolak dibukanya pantai Tengket. Dirinya juga menggalang tanda tangan sebagai bukti penolakan.

“Sesepuh selalu mewanti-wanti pemuda untuk menjaga petilasan yang ditemukan oleh Ra Lilur dan diyakininya sebagai tempat pertemuan para Wali,” paparnya.

Selain dijga kekeramatannya, pengelolaan destinasi wisata tersebut belum mengajukan izin baik ke desa, kecamatan maupun Ke kabupaten di dinas yang berwenang.

“Dibukanya pun secara sepihak tanpa ada komunikasi dengan Pemerintah Desa lebih dulu,” tutup Imam. (fat/rid/fm)