Pengurukan dan Penguasaan Lahan Pemkot Surabaya Tercium Kejaksaan

oleh -
Diklaim sebagai hak milik pribadi, lahan aset Pemkot Surabaya di Dusun Sepat, Kelurahan Lidah Kulon, Surabaya, diuruk dan dipagar besi. (Foto: Dok.Ist/junaedi)

Surabaya, ArahJatim.com – Pengurukan dan penguasaan lahan aset milik pemkot di Kelurahan Lidah Kulon, sudah tercium oleh Kejaksaan Negeri (Kejari) Surabaya.

Korps Adhiyaksa di Jalan Sukomanunggal, Surabaya itu mengaku mendapat laporan dari masyarakat yang menamakan dirinya KAMAK (Koalisi Masyarakat Anti Korupsi). Saat ini, laporan tengah ditelaah oleh seksi (bagian) Intel guna dilakukan lidik lebih lanjut.

Kepala Seksi Pidana Khusus (Kasi Pidsus) Kejari Surabaya, Heru Kamarullah menyatakan, sesuai prosedur, setiap laporan dari masyarakat akan di-handle oleh seksi Intel sebelum perkara tersebut sampai di meja Pidsus.

“Laporannya di-handle seksi intel sebelum ke pidsus,” singkat Heru Kamarullah, sewaktu dihubungi, Minggu (7/6).

Diketahui sebelumnya, lahan yang tercatat sebagai milik KMS (Kota Madya Surabaya) diuruk dan dikuasai oleh perorangan. Lahan dipagar dan ditancapi papan plang yang diklaim sebagai hak milik pribadi.

Obyek lahan tersebut resmi tercatat sebagai aset pemerintah daerah dengan nomor register 12345678-20030-1. Sesuai berita acara Panitia pembebasan tanah Kotamadya Daerah tingkat II Surabaya nomor 36/SDA/PHT/P2TUN/76, tanggal 19 April 1976, total luas lahan aset milik pemkot itu mencapai 4,9 hektare. Akan tetapi, saat ini hanya tinggal sekitar tiga hektare setelah beberapa orang warga menggugat Pemkot Surabaya.

Gugat-mengugat antara petani melawan Pemkot Surabaya itu berakhir pada 2011 setelah turunnya putusan Mahkamah Agung (MA) Nomor 645 PK/PDT/2011 yang memutuskan bahwa penggugat atau petani masih memiliki hak yang melekat pada objek tanah tersebut.

Pemkot Surabaya kalah bersengketa hukum di pengadilan, sekitar 1,9 hektar lahan itu lepas dan kembali ke petani.

Aset milik Pemerintah Kota Surabaya tersebut kini tersisa sekitar tiga hektare. Itupun telah dikuasai oleh perorangan dan diklaim sebagai hak milik pribadi. Bukan hanya itu, lahan tersebut juga telah diuruk dan dipagar menggunakan pagar besi.

Kontraktor yang melakukan pengurukan lahan KMS itu sewaktu dihubungi menerangkan, pihaknya berani melakukan pengurukan karena mendapat izin dari Uddin Panjaitan, selaku pihak yang mengklaim hak kepemilikan atas objek lahan itu.

“Dapat izin dari pemilik, atas nama Pak Udin,” kata Fuat, kontraktor yang melakukan pengurukan lahan.

Akan tetapi, Fuat mengaku izin itu tidak diberikan lagsung oleh Uddin, melainkan melalui orang kepercayaannya yang diketahui sebagai warga Sepat, Lidah Kulon, Surabaya.

“Tidak (bukan Uddin langsung, Red). Diizinkan oleh orang kepercayaan, Pak Sariman. Bisa dikonfirmasi langsung saja ke Pak Sariman, orang setempat,” ungkapnya.

Fuat mengaku tidak mengetahui  tujuan pengurukan itu. Dia awalnya hanya menawarkan tanah sisa galian dan diizinkan oleh Sariman untuk ditempatkan di lahan itu.

“Kurang tahu, saya cuman tawarkan ada tanah sisa galian, dan diizinkan Sariman (ditempatkan, Red) di lokasi tersebut,” kata Fuat. (Jun/Spd)