Pengendara Motor Keluhkan Ketebalan Speed Trap

oleh -

Sampang, ArahJatim.com – Pengendara keluhkan Speed Trap di Jalan Imam Bonjol, Kelurahan Dalpenang, Kabupaten Sampang.

Pemasangan pita penghambat kecepatan kendaraan tersebut dikhawatirkan dapat menyebabkan terjadinya kecelakaan. Hal ini seperti yang dituturkan oleh Arif, pengendara yang sering melintasi jalan itu.

“Terlalu tinggi dan memicu hilangnya kosentrasi pengendara, kemarin ada sepeda motor jatuh dan tadi bentor juga jatuh,” katanya pada hari kamis (1/4/2021).

Arif berharap, pita penggaduh tersebut segera diperbaiki dan dibuat tidak begitu tebal agar kendaraan yang lewat stabil serta getarannya tidak terlalu keras.

“Kalau bentuknya seperti ini, itu namanya jebakan Batman. Kemarin ada pengendara sepeda motor yang kesal dan marah-marah karena telur bawaannya pada pecah saat melewati pita penggaduh. Kalau ini dibiarkan maka warga akan membongkarnya,” imbuhnya.

Menanggapi protes warga terhadap pemasangan Speed Trap itu, Sekretaris Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Sampang, Yulis Juwaidi mengatakan bahwa pemasangan pita penggaduh sudah sesuai aturan yang ada, yaitu mengacu pada Permenhub No 82/2018 tentang Alat Pengendali dan Pengaman Pengguna Jalan.

“Itu sudah sesuai dengan aturan, pada Pasal 32, ketinggian pita penggaduh maksimal 40 milimeter dan ketebalan maksimal 4 centimeter. Sementara yang ada itu ketebalan cuma 2,5 centimeter,” dalihnya.

Pemasangan pita pengejut itu, lanjut Yulis dilakukan atas dasar permintaan tokoh dan warga setempat, dengan tujuan untuk mengurangi kecepatan kendaraan agar tidak terjadi kecelakaan.

Baca Juga:

Menurutnya, ketebalan pemasangan sudah dilakukan percobaan. Awalnya dipasang dengan ketebalan 1,5 cm. Tetapi kecepatan kendaraan masih di atas 60 km per jam, sehingga dilakukan perbaikan kembali setebal 1 cm atas permintaan tokoh setempat.

“Kecelakaan itu terjadi karena pola pikir pengendara yang masih belum berubah. Seharusnya, dengan terpasangnya pita pengejut bisa mengurangi kecepatan kendaraan,” ungkapnya.

Saat ini, kata Yulis pemasangan pita penggaduh itu masih tahap monitoring dan evaluasi. Jadi, apabila nanti sudah bisa merubah mindset para pengendara bisa dilanjutkan.

“Tetapi, apabila malah berakibat fatal maka nantinya akan kami bongkar dan dipasang kembali dengan ketebalan yang sesuai,” pungkasnya. (mal)