Mengintip “Petit Suro” di Tulungagung: Ketika Wayang Kulit ‘Brubuh Ngalengka’ Jadi Simbol Luruhnya Angkara Murka

oleh -
oleh

TULUNGAGUNG, Arahjatim.com – Bulan Suro selalu memiliki magnet spiritual tersendiri bagi masyarakat Jawa. Bagi sebagian orang, bulan ini bukan sekadar pergantian kalender, melainkan sebuah ruang refleksi mendalam untuk membersihkan diri dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

​Nuansa spiritual dan kehangatan budaya itulah yang begitu terasa di kediaman Agus Timur, seorang praktisi seni sekaligus spiritualis di Kecamatan Kauman, Kalangbret, Kabupaten Tulungagung.

​Pada Selasa malam (14/7/2026), kediamannya ramai dipadati tamu dari berbagai kalangan—mulai dari pegiat budaya, kolega, hingga sesama pelaku laku spiritual. Mereka berkumpul bersama untuk menggelar prosesi unik bertajuk “Petit Suro”, sebuah ritual tahunan sebagai penanda pamungkas atau tutupnya bulan Suro.

pasang iklan_rev3

​Lebih dari Ritual, Menjadi Ruang Hangat Silaturahmi

​Bagi Agus Timur atau yang akrab disapa Mbah Wir, Petit Suro bukan sekadar ritual sunyi tanpa makna. Acara ini sengaja dikemas sebagai wadah silaturahmi yang guyub bagi para pencinta budaya Nusantara dan pelaku spiritual.

​Sambil menikmati kebersamaan, puncak penutupan Bulan Suro 2026 ini ditandai secara istimewa lewat pagelaran wayang kulit semalam suntuk.

​”Ini adalah bentuk wujud rasa syukur kami. Namun, bersyukur itu tidak cukup hanya di lisan saja, melainkan harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Rasa syukur sejati itu adalah ketika kita bisa legawa (ikhlas), lilo (rela), dan narima (menerima) atas segala anugerah yang diberikan oleh Sang Pencipta,” tutur Mbah Wir ramah di sela-sela acara, Rabu (15/7/2026).

​Filosofi Lakon “Brubuh Ngalengka”: Kebaikan yang Selalu Menang

​Ada hal menarik dalam pagelaran wayang kali ini. Mbah Wir secara khusus memilih lakon “Brubuh Ngalengka” untuk dimainkan oleh tiga dalang sekaligus, yaitu Ki Minto Darsono, Ki Thatit Wibat Sudarsono, dan Ki Heru Rahadi.

​Lakon ini merupakan salah satu kisah paling dramatis dan klimaks dalam epos Ramayana. Cerita ini menggambarkan runtuhnya Kerajaan Ngalengka setelah pasukan Prabu Rama berhasil menaklukkan keserakahan dan keangkaramurkaan Raja Raksasa, Prabu Dasamuka (Rahwana).

​Pemilihan lakon ini tentu bukan tanpa alasan filosofis yang mendalam.

​”Lakon ini sengaja dipilih untuk memberikan edukasi moral kepada kita semua, manusia modern. Ini adalah pengingat bahwa sekuat apa pun keburukan atau angkara murka mencengkeram, pada akhirnya ia akan runtuh dan kalah oleh kekuatan kebaikan. Itu adalah hukum alam yang nyata,” jelas Mbah Wir penuh makna.

​Apresiasi Tokoh Budaya: Merawat Jati Diri Bangsa yang Berpancasila

​Kehangatan acara Petit Suro ini juga dihadiri oleh salah satu tokoh budaya Tulungagung yang juga merupakan purnawirawan kepolisian, Jenderal (Purn) Hari Yuwono. Beliau memberikan apresiasi yang sangat tinggi atas konsistensi Mbah Wir dalam merawat tradisi leluhur.

​Menurut Jenderal Hari, dedikasi Mbah Wir patut dicontoh karena tidak hanya aktif sebagai seniman ketoprak, tetapi juga murah hati dalam membagikan pengetahuan spiritual dan supranatural kepada siapa saja yang ingin belajar.

​”Sebagai seorang seniman ketoprak, beliau itu sangat telaten berbagi ilmu supranatural dan kebatinan kepada siapa pun. Langkah seperti ini sangat bagus untuk meneguhkan jati diri bangsa, demi menjaga kerukunan dan persaudaraan kita,” ungkap Jenderal Hari dengan nada bangga.

​Ia juga berharap agar kegiatan budaya seperti ini terus hidup di tengah gempuran zaman modern.

​”Semoga apa yang dijalankan oleh Mbah Wir ini mampu menggugah jiwa kita semua untuk kembali ke jati diri bangsa yang kokoh, tidak luntur oleh perkembangan zaman, dan senantiasa hidup berlandaskan nilai-nilai Pancasila,” tegasnya menutup perbincangan.

​Malam itu, di bawah langit Kalangbret, kepulan asap dupa, dan alunan gamelan yang magis, masyarakat Tulungagung kembali diingatkan tentang pentingnya harmoni, rasa syukur, dan keyakinan bahwa kebaikan akan selalu menemukan jalannya untuk menang. (don1)

No More Posts Available.

No more pages to load.