Pencegahan DBD di Tengah Pandemi Covid-19

oleh -
oleh

Jakarta, ArahJatim.com – Demam berdarah dengue (DBD) masih menghantui, bahkan di tengah pandemi covid-19. Apalagi, masih banyak masyarakat yang menghabiskan waktu di rumah. Namun, DBD di tengah pandemi ini bisa dicegah.

Beberapa waktu lalu, Yayasan Gerakan Masyarakat Sadar Gizi bersama BPP. KKSS, Literasi Sehat Indonesia (LiSan), Komunitas Literasi Gizi (Koalizi), Bakornas Lembaga Kesehatan (LKMI-HMI), dan www.sadargizi.com mengadakan webinar membahas tema ‘Waspada, Acaman Demam Berdarah Dengue di Tengah Pandemi covid-19’.

“Tema di atas sengaja kami angkat mengingat di Indonesia, setiap tahun pada musim hujan terdapat banyak kasus demam berdarah dengue. Tentu saja maksudnya supaya kita semua orang Indonesia apapun jabatan dan status sosialnya agar tidak terpaku hanya mengurus pandemi covid-19. Dan hendak mengingatkan bahwa sebelum pandemi covid-19, orang Indonesia sudah memiliki virus langganan yang selalu mengancam,” ujar dr. Hasanuddin Ishak, salah satu narasumber yang turut hadir dalam acara tersebut.

pasang iklan_rev3

Guru besar dan peneliti entomologi nyamuk dari Universitas Hasanuddin Makassar itu menambahkan, sampai saat ini penyakit demam berdarah dengue masih menjadi masalah kesehatan masyarakat dan endemis di Indonesia.  Jumlah penderita DBD berfluktuasi cenderung meningkat dan penyebaran daerah endemik semakin luas. Penyakit ini dapat mengakibatkan Kejadian Luar Biasa (KLB) di beberapa daerah endemis yang terjadi hampir setiap tahunnya pada musim penghujan.

Baca Juga :

Sejak tahun 1952 infeksi virus dengue menimbulkan manifestasi klinis berat yaitu demam berdarah dengue (DBD) yang ditemukan di Manila, Filipina. Kemudian menyebar ke Thailand, Vietnam, Malaysia bahkan Indonesia. Tahun 1968 penyakit DBD dilaporkan pertama kali di Surabaya dan Jakarta sebanyak 58 kasus, dengan kematian yang sangat tinggi, 24 orang (case fatality rate 41,3%).

“Pada tahun 1993 DBD telah menyebar ke seluruh provinsi di Indonesia,” ucap Hasanuddin Ishak.

Menurut catatan Kementerian Kesehatan RI, sebagaimana diberitakan kompas.com, 22 Juni 2020, ada 68.753 kasus DBD di Indonesia secara kumulatif hingga Juni 2020. Jika dibanding dengan tahun sebelumnya pada periode yang sama, jumlah total kasus DBD hingga Juni 2019 sebanyak 105.222. Jumlah tersebut lebih banyak bila dibandingkan dengan kasus DBD yang telah ditemukan hingga Juni 2020. Angka kematian pada tahun 2019, hingga bulan Juni tercatat 727 kasus kematian. Sementara pada tahun 2020 pada periode yang sama, yaitu hingga bulan Juni, tercatat 446 kasus kematian akibat DBD.

Selama ini Nyamuk Aedes Aigypty dianggap menjadi biang dari semuanya. Nyamuk Aedes aigypty memiliki kemampuan terbang hingga mencapai 100 meter. Biasanya menularkan penyakit pada pagi dan sore hari, yaitu dua jam setelah matahari terbit dan beberapa jam sebelum matahari terbenam. Atau sering pula kita baca bahwa Aedes aegypti aktif menggigit pada siang hari dengan dua puncak aktivitas yaitu pada pukul 08.00 – 12.00 dan 15.00 – 17.00.

“Nyamuk Aedes Aigypty ini lebih sering disebut penyebab demam berdarah karena ia lebih suka berada di dalam rumah. Suka berkembang biak di tempat-tempat penampungan air buatan seperti bak mandi, ember, vas  bunga, tempat minum burung, kaleng bekas, tempayang dan tempat-tempat lain yang serupa,” paparnya.

Menurut WHO kriteria demam berdarah dengue ialah demam yang berlangsung 2-7 hari, terdapat manifestasi perdarahan, trombositopenia (jumlah trombosit < 100.000/mm3), dan peningkatan permeabilitas pembuluh darah. Biasanya demam mulai mereda pada 3-7 hari setelah onset gejala. Pada pasien juga bisa didapatkan tanda peringatan, yaitu sakit perut, muntah terus-menerus, perubahan suhu (demam hipotermia), perdarahan, atau perubahan status mental (mudah marah, bingung).

“Memang program pengendalian nyamuk seperti 3M dan abatesasi (Temephos 1% sebagai larvasid) dan fogging (penyemprotan dengan insektisida Malathion 5%) sudah dilakukan secara rutin, namun dalam penelitian, sampai saat ini penyakit demam berdarah dengue masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Jumlah penderita berfluktuasi cenderung meningkat dan penyebaran daerah endemiknya semakin meluas,” pungkas Hasanuddin Ishak. (red)

No More Posts Available.

No more pages to load.