Meski Jumlah Penderita Menurun, Banyuwangi Tetap Waspada DBD

oleh -
https://live.staticflickr.com/65535/49660838477_e58e4f1827_b.jpg
Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas saat mengunjungi pasien penderita Demam Berdarah yang tengah dirawat di rumah sakit umum daerah (RSUD) Blambangan. (Foto: arahjatim.com/hmsbwi/ful)

Banyuwangi, ArahJatim.com – Selain penyebaran virus corona, Demam Berdarah Dengue (DBD) juga menjadi ancaman bagi masyarakat. Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas meminta masyarakat untuk juga waspada terhadap penyakit ini, salah satunya lewat pemberantasan sarang nyamuk (PSN).

“Dinas Kesehatan Banyuwangi sudah melakukan gerakan serentak PSN di seluruh wilayah bersama dengan masyarakat untuk membersihkan lingkungan. Kepedulian akan lingkungan sehat ini kunci dari pencegahan,” kata Anas.

Anas juga mengunjungi pasien penderita Demam Berdarah yang tengah dirawat di rumah sakit umum daerah (RSUD) Blambangan.

Anas menyebut, gerakan PSN ini dilakukan dengan gerakan 3M yaitu, menutup, menguras, dan mengubur. Selain itu, juga membangun hidup bersih dan sehat.

“Antara lain dengan gerakan 3M, menguras tempat tempat air, menutup tempat penampungan air, kemudian mengubur barang bekas. Termasuk juga kemungkinan adanya sarang-sarang nyamuk di mana-mana, kemudian juga membangun hidup bersih,” kata Anas.

Baca juga:

Dinas Kesehatan (Dinkes) Banyuwangi telah mencatat mulai Januari hingga bulan Maret ini ada sekitar 39 orang terkena penyakit demam berdarah dengue (DBD). Sementara periode yang sama pada tahun 2019, tercatat 71 orang.

“Jumlah penderita DBD masih lebih rendah dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu. Tapi kita tetap tingkatkan kewaspadaan,” terang Kepala Dinas Kesehatan Banyuwangi, dr. Wiji Lestariono

Disampaikan dr. Wiji, hingga saat ini sejak Januari hingga Maret yang meninggal akibat DBD di Banyuwangi mencapai dua orang. Untuk itu, pihaknya meminta warga Banyuwangi mewaspadai demam berdarah tahun ini.

“DBD ini penyebarannya cukup melalui nyamuk aedes aegypti. Langkah pencegahannya ya masyarakat harus melakukan gerakan pemberantasan sarang nyamuk,” kata dr. Rio, sapaan akrabnya.

Ditambahkannya, seluruh kecamatan di Banyuwangi masuk daerah rawan atau endemis demam berdarah. Karena kasus DBD masih ditemukan hampir di seluruh wilayah Banyuwangi.

Sehingga untuk menekan angka penyebaran DBD tersebut, pihaknya telah menerjunkan kader juru pemantau jentik nyamuk atau jumantik di setiap puskesmas.

“Jumantik ini ditugaskan untuk memantau jentik nyamuk di setiap lingkungan dan rumah warga. Tahun ini dinkes juga melakukan upaya lebih serius untuk membersihkan lingkungan dengan segera melakukan pengecekan jika terjadi indikasi terkait dengan demam berdarah termasuk juga untuk jemput bola bagi warga yang terindikasi,” pungkasnya. (adv.hmsbwi/ful)