Oknum Suporter Keroyok Sesama Suporter Persebaya, Ini Penyebabnya

oleh -
Polisi mengamankan sejumlah barang bukti. Diantaranya tiga buah handphone satu milik pelaku, dua milik korban. Satu buah pisau dapur dan dua kaos. (Senin, 11/02/2019) (Foto: ArahJatim.com/mua)

Blitar, ArahJatim.com – Hanya karena dipandang, lima suporter yang masih di bawah umur tega mengeroyok sesama suporter. Pengeroyokan ini terjadi di Stadion Supriadi Kota Blitar usai final Piala Soeratin  U-17 Nasional antara Persebaya U-17 vs Persipan Pandegelang, Sabtu (9/2/2019).

Kelima pelaku mengunakan atribut Bonek dan Persebaya. Sementara kedua korban warga Kecamatan Garum, Blitar juga menggunakan atribut yang sama.

“Awalnya mereka menonton final Piala Soeratin. Kemudian kelima pelaku bertemu dengan korban di luar stadion. Kelima pelaku merasa tersinggung karena merasa dipelototi oleh korban sehingga terjadi penganiayaan,” ungkap Kapolres Blitar Kota, AKBP Adewira Negara Siregar, Senin (11/2/2019).

Setelah dikeroyok di depan ruko selatan Stadion Supriyadi, kemudian pelaku meminta korban untuk melepas kaos jersey yang dipakai korban. Serta merampas handphone dan uang milik korban.

Baca juga :

 “Setelah mengeroyok korban. Pelaku kemudian merampas kaos yang dikenakan korban, HP serta uang,” imbuhnya.

Satu pelaku berinisial MS (15) warga Perak, Surabaya berhasil diamankan petugas Satreskrim Polres Blitar Kota. Sementara empat pelaku lainya buron. Satu diantaranya perempuan yang diakui sebagai pacar pelaku yang sudah tertangkap.

“Satu pelaku berhasil diamankan saat masih berada di sekitar Stadion Supriadi Kota Blitar. Sementara empat lainya masih dalam pencarian satu diantaranya seorang perempuan,” kata Adewira.

Berdasarkan hasil pemeriksaan kedua korban mengalami luka di kepala dan hidung. Dari pelaku polisi mengamankan sejumlah barang bukti. Diantaranya tiga buah handphone satu milik pelaku, dua milik korban. Satu buah pisau dapur dan dua kaos.

Pelaku dikenakan pasal 80 ayat 1 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang tindak pidana kekerasan fisik terhadap anak atau pengeroyokan. Serta Undang-Undang Darurat RI Nomor 12 Tahun 1951 tentang kepemilikan senjata tajam tanpa ijin.(mua)