Surabaya, ArahJatim.com – ‘Jancok, dikepung rek dikepung’, teriak pelajar kelas tiga SMK, Aryono, bukan nama aslinya, saat terjebak di sekitar perumahan di kawasan Surabaya Timur bersama puluhan kawan pesilat lainnya usai mereka terjebak kericuhan di warung kopi, Jumat (2/12) silam.
Sebelumnya dia bersama kawan lainnya memasuki perumahan tersebut berniat untuk sekedar lewat, yang ternyata dihalau oleh anggota kepolisian. Berniat untuk kembali ke pintu masuk perumahan, pintu tertutup rapat tak bisa dibuka, yang juga telah menunggu anggota kepolisian.
“Setelah itu saya mendengar tembakan dua kali, teman saya kakinya kena tembak. Kami juga panik langsung mencari jalan,” urainya saat ditemui, Rabu (14/12).
Terdengar suara tembakan, Aryono bersama puluhan kawannya semburat mencari jalan keluar hingga menemukan pagar yang terpaksa harus dibobol untuk menyelamatkan diri.
“Sudah dijebol saya boncengan sama teman saya, dan kemudian ada teman saya yang lain jatuh. Sesaat saya kembali boncengan, ternyata perut saya sebelah kiri tertembak,” akunya sembari menunjukkan luka bekas tembakan.
Selepas tertembak di bagian perut, dia bersama temannya melarikan diri ke Rumah Sakit Muji Rahayu yang terletak di Jalan Manukan Wetan, Surabaya. Sesampainya di rumah sakit dia ditolak lantaran lukanya terlalu parah karena tembakan, dan direkomendasikan untuk pergi ke RSUD Dr Soetomo.
Dari hasil pemeriksaan dokter, ada benda asing berdensitas logam berbentuk peluru dengan ukuran +/- 1,8 x 1,1 x 0,8 cm yang berada di daerah pinggul berjarak 0,4cm dari tulang belakang dengan kerusakan pada dinding perut depan ukuran 0,8 x 1,8 cm di perut kiri bawah.
Beban Utang Puluhan Juta
Kejadian nahas yang menimpa Aryono lantas membuat Heri, pria berusia 50 tahun itu kebingungan mendengar kondisi anaknya yang sudah dirawat di rumah sakit akibat terkena tembakan. Dia sempat mengaku ada tekanan dari pihak lain untuk segera menandatangani sebuah berkas yang berisikan tentang dirinya tak akan menyeret masalah ini ke ranah hukum.
“Tapi saya tidak mau tanda tangan, dan diancam jika tidak tanda tangan anak saya akan di proses hukum,” akunya.
Di rumah sakit itu juga, Heri mengaku sempat dimarahi oleh anggota Polsek Sukolilo sampai menunjukan video penyerangan yang membawa sajam itu. Tentu bagian dari kawanan anaknya.
Selama rentan waktu seminggu di rumah sakit itu, Heri mengaku merogoh kocek yang tak sedikit, setidaknya 50 juta ia keluarkan untuk biaya rumah sakit. Namun ia mengatakan baru membayar sebesar Rp 1 juta saja, selebihnya 49 juta masih dalam tanggungan utang.
“Dapat uang darimana saya mas, kerjaan saya cuman sopir disuruh bayar uang segitu banyaknya,” katanya.
Pengakuan Pihak Polisi
Sementara untuk menanggapi kabar tersebut, Kapolrestabes Surabaya, Kombes
Akhmad Yusep Gunawan mengatakan telah menindaktegas anggota silat dengan melakukan tindakan tegas terukur terhadap empat orang. Yusep beralasan untuk memberikan efek jera kepada pelaku kericuhan.
“Saat itu ditembakkan tembakan pantul, dan mengenai 4 orang pelaku. Tembakan pantul itu dilakukan 4 petugas yang saat itu hadir di lapangan, melawan 120 orang. Baru mereka membubarkan diri,” ungkap Yusep saat memberikan sambutan di acara Diskusi Panel.
Namun, Yusep mengatakan jika tidak ada anak-anak yang ditembak. “Anak-anak gaada, remaja,” ujar Yusep.
Berbeda pendapat dengan Kapolrestabes Surabaya, Kapolsek Sukolilo, Kompol M Sholeh mengatakan jika tidak ada anggotanya yang menembak 4 anggota perguruan silat saat penyerangan di Keputih.
“Gak ada,” jawab Sholeh singkat via pesan Whatsapp, Rabu, 14 Desember 2022 petang.










