Meriahnya Tradisi Endhog-Ndhogan Banyuwangi, Arak Ribuan Telur Dari Lima Penjuru

by -
https://live.staticflickr.com/65535/49038846677_8157268287_b.jpg

Banyuwangi, ArahJatim.com – Setiap peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, warga Banyuwangi menggelar tradisi Endhog-ndhogan. Mereka mengarak ribuan telur yang ditancapkan di batang pohon pisang sebagai simbol nilai-nilai Islam yang harus dimiliki setiap umat Islam.

Tradisi endhog-ndhogan ini sangat popular di Banyuwangi. Hampir di setiap kampung di Banyuwangi, warga menyambut Maulid Nabi (Kelahiran Nabi Muhammad SAW) secara suka cita dengan mengarak ribuan telur mengelilingi kampungnya.

Ribuan telur yang dihias beraneka warna tersebut lalu ditancapkan dalam sebuah batang pisang (jodang). Setiap jodang biasanya berisi 50 telur yang masing-masing telah ditempatkan sebuah wadah kecil yang menarik.

Saat mengarak telur, warga akan melantunkan salawat sebagai bentuk penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW. Tua muda, mereka berjalan keliling kampung sambil mengumandangkan salawat nabi.

Tradisi yang telah lekat itu pulalah yang mengilhami Pemkab Banyuwangi menggelar Festival Endhog-ndhogan dan dimasukkan dalam agenda Banyuwangi Festival.

Seperti tahun ini yang digelar Sabtu pagi, (9/11/2019). Mengenakan pakaian serba putih, ribuan warga mengarak jodang telur, datang dari lima penjuru yang melambangkan jumlah salat wajib umat muslim. Salawat Nabi terus dikumandangkan mengiringi arak-arakan telur tersebut.

Arak arakan tersebut bertemu tepat di depan Masjid Agung Baiturrahman, Banyuwangi. Lokasi ini merupakan lokasi baru setelah pada tahun-tahun sebelumnya Festival Endhog-ndhogan selalu berpusat di depan Kantor Pemkab Banyuwangi.

Hadir dalam acara tersebut, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, Wabup Yusuf Widyatmoko, dan jajaran forpimda lainnya.

Bupati Anas mengatakan tradisi Endhog-ndhogan merupakan salah satu cara masyarakat Banyuwangi memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Bila biasanya digelar di jalanan kota, tahun ini dipusatkan di Masjid Agung Baiturrahman.

“Tahun ini kami pusatkan di masjid besar karena sebagai simbol persatuan ulama dan umaro (pemimpin). Kami ingin Banyuwangi ke depannya terus menjadi daerah yang maju sekaligus terjaga kesalehan sosialnya dengan tuntunan dari para ulama daerah,” kata Anas.

“Tidak hanya digelar meriah yang berpusat di Masjid Agung, tapi juga dilaksanakan serentak di setiap masjid di 25 kecamatan se-Banyuwangi,” imbuhnya.

Ada filosofi yang terkandung dalam tradisi endhog-ndhogan ini. Telur sebagai simbol terdiri dari tiga lapis, yakni kulit, putih telur dan kuning telur. Kulit telur diibaratkan sebagai lambang keislaman sebagai identitas seorang muslim.

Putih telur, melambangkan keimanan, yang berarti seorang yang beragama Islam harus memiliki keimanan yakni mempercayai dan melaksanakan perintah Allah SWT. Lalu kuning telur melambangkan keihsanan, memasrahkan diri dan ikhlas dengan semua ketentuan Allah SWT.

“Islam, Iman dan Ihsan adalah harmonisasi risalah yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW yang jika ditancapkan pada diri manusia akan menghasilkan manusia yang mencerminkan akhlak Rasulullah. Inilah makna Festival endhog-ndhogan agar kita selalu ingat dan menjalankan tuntunan nabi,” terang Anas.

Ditambahkan Anas, festival endhog-ndhogan merupakan sebuah syiar Islam yang sarat dengan nilai dan kearifan lokal. Dalam tradisi ini terkandung pula semangat gotong royong dan saling tolong antarsesama.

“Kegiatan ini juga untuk mempererat silaturahmi. Kami dan warga berkumpul, lalu makan bareng memakai ancak (nampan dari daun pisang-red). Ini adalah nilai-nilai kebersamaan yang perlu kita jaga dengan baik,” ujar Anas.

Dalam peringatan maulid ini, juga diisi tausiah agama oleh KH. Ali Makki, Ketua PC NU Banyuwangi. Dalam tausiahnya, Gus Makki mengatakan bahwa, peringatan Maulid Nabi sudah selayaknya dilakukan oleh umat muslim, sebagai bentuk penghormatan kepada Nabi yang akan memberikan syafaatnya bagi umat muslim kelak di hari akhir.

Acara festival endhog-ndhogan ini diakhiri dengan memakan nasi ancak bersama-sama. Satu ancak yang berisi nasi dan lauk pauk dimakan oleh 4-5 orang. Keguyuban pun langsung terasa saat semua berbaur bersama-sama memakan hidangan tersebut.

“Senang sekali bisa merayakan Maulid bersama Bupati dan semua orang disini, biasanya saya ikut endhog-ndhogan yang ada di kampung, namun hari ini saya sengaja ikut gabung di Masjid Agung untuk merasakan perayaan yang berbeda,” kata Fauzul, salah seorang warga. (adv.hmsbwi/ful)