Ritual Saolak, Tradisi Tujuh Bulanan Warga Bugis Di Banyuwangi

by -
https://live.staticflickr.com/65535/49038231218_bfc8747660_b.jpg

Banyuwangi, ArahJatim.com – Warga keturunan suku Bugis Mandar di Lingkungan Tanjung, Kelurahan Klatak, Kecamatan Kalipuro, Banyuwangi, memiliki tradisi unik dalam merayakan tujuh bulan kehamilan warganya. Mereka menggelar ritual Saolak. Ritual yang sudah ada sejak ratusan tahun silam tersebut dipercaya sebagai penolak bala sekaligus untuk mendoakan kesehatan janin bayi dalam kandungan.

Tradisi Saolak sendiri biasa dilakukan warga Bugis saat warganya memiliki hajatan seperti khitanan, pernikahan hingga selamatan tujuh bulan kehamilan. Sebelum ritual digelar, pemangku adat suku Bugis Mandar mempersiapkan berbagai macam bunga, buah, dan nasi tumpeng yang ditata rapi di sebuah nampan.

Selanjutnya, warga yang sedang hamil tujuh bulan diminta untuk tidur dengan dikelilingi oleh keluarganya. Setelah doa-doa dipanjatkan, sesajian yang ada pada nampan dibawa secara bergiliran oleh sanak saudara dengan cara memutar sebanyak tiga kali.

Setelah selesai diputar, nampan diletakkan di atas perut si ibu yang hamil dengan tujuan agar janin bayi di dalam perut diberi keselamatan hingga kelahirannya nanti.

Ritual berlanjut ke proses menarik sebuah kain di bawah badan si ibu hamil. Pada sesi tersebut, si suamilah yang harus melakukannya, yaitu menarik kain ke arah bawah, dengan harapan proses kelahiran bayi yang dikandung si ibu hamil bisa berjalan lancar.

“Ini tradisi nenek moyang kami yang selalu kami lakukan kalau kita punya hajatan seperti khitanan, pernikahan dan tujuh bulanan. Kalau orang Jawa menyebutnya mitoni. Tujuannya selain untuk keselamatan juga untuk melestarikan warisan nenek moyang kami,” kata Nurmansyah, warga keturunan Bugis di Banyuwangi.

Prosesi tidak berhenti di sini, layaknya adat tradisi orang Jawa, di sesi akhir Saolak ini juga ada sesi siraman. Di mana seluruh anggota keluarga dekat menyiramkan air yang sudah dicampur dengan berbagai macam bunga ke tubuh ibu yang hamil.

Ritual Saolak tujuh bulanan pun berakhir. Selanjutnya seluruh sesajian maupun peralatan yang digunakan dalam prosesi ritual langsung dilarung ke laut sebagai tanda membuang sial.

“Warga kami itu percaya bahwa nenek moyang kita itu dulu manusia dan buaya. Prosesi buang sesaji ke laut itu sebagai sarana membuang sial. Agar yang di laut itu tidak mengganggu kita yang ada di daratan,” kata Dahliana, pemangku adat suku Bugis Mandar di Banyuwangi.

Sementara itu, meski berada di wilayah yang mayoritas masyarakat suku Using dan Jawa serta Madura, namun ritual warga keturunan Bugis Mandar tetap lestari hingga saat ini. Selain itu, warga sekitar juga tidak pernah mempermasalahkan dan selalu mendukung segala bentuk ritual adat yang dilakukan oleh suku lain, begitu pula sebaliknya.

Mereka percaya, segala ritual yang dilakukan memiliki tujuan yang sama yakni demi kebaikan dan keselamatan. Hanya saja caranya yang berbeda-beda.

“Pada prinsipnya kegiatan ini untuk mempertahankan seni budaya bangsa. Ini adalah tradisi budaya nenek moyang kami. Kami adalah Suku Mandar Bugis yang ada di Banyuwangi. Artinya dalam ruang lingkup kebinekaan, budaya itu penting untuk dipertahankan,” pungkas pria yang berprofesi sebagai polisi itu. (ful)