Surabaya, ArahJatim.com – Semangat kolaborasi sister city antara Surabaya dan Liverpool kini mewujud dalam bentuk karya sinematik. Universitas Ciputra (UC) Surabaya sukses menggelar pemutaran film internasional bertajuk “Global Screen” pada Rabu (22/4) di Integrity Hall, UC.
Acara ini menjadi ajang unjuk gigi hasil kolaborasi antara Fakultas Ilmu Komunikasi dan Bisnis Media (FIKOM) UC dengan School of Art and Creative Industries, Liverpool John Moores University (LJMU), Inggris. Tak sekadar pemutaran film, kegiatan ini menjadi simbol integrasi pendidikan kreatif dan diplomasi budaya lintas benua.
Visualisasi Identitas Dua Kota dalam Satu Layar
Film utama yang diputar, berjudul “What’s It Like In..”, merupakan buah manis dari proses panjang sejak tahap pra-produksi pada Februari 2025. Film ini mengangkat narasi unik tentang dua mahasiswa film asal Liverpool dan Surabaya yang menjalin relasi secara daring.
Melalui pendekatan cross-cultural storytelling, penonton diajak menyelami:
- Perbedaan Pola Komunikasi: Bagaimana teknologi menjembatani interaksi dua budaya berbeda.
- Dinamika Kampus: Perbandingan kehidupan akademik di Indonesia dan Inggris.
- Eksplorasi Budaya: Refleksi identitas generasi muda dalam menghadapi konteks global.
Dukungan Penuh dari Pemerintah dan Akademisi Internasional
Pemutaran ini dilaksanakan secara hibrida, menghubungkan audiens di Surabaya dan Liverpool melalui Zoom serta live streaming. Kehadiran perwakilan British Embassy dan Liverpool Government mempertegas betapa krusialnya proyek ini dalam memperkuat hubungan bilateral melalui sektor industri kreatif.
Prof. Dr. Astrid, S.T., M.M., Vice Rector for Entrepreneurship, Academic, and Research UC, dalam sambutannya menekankan bahwa kolaborasi lintas negara sangat penting untuk memperkuat pendidikan berbasis praktik global.
Senada dengan hal tersebut, Kepala Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Surabaya, Dr. Agus Imam Sonhaji, ST., M.MT, mengapresiasi langkah ini sebagai penguatan ekosistem inovasi kota. Dari sisi Liverpool, Professor Rachel McLean selaku Director of the School of Art and Creative Industries LJMU juga menyampaikan kebanggaannya atas sinergi kreatif mahasiswa dari kedua negara.
Dialog Budaya: Dari Ideasi Hingga Perbedaan Visual
Antusiasme memuncak saat sesi diskusi berlangsung. Sekitar 150 mahasiswa yang hadir secara luring aktif membedah teknis produksi film tersebut. Isu-isu menarik muncul ke permukaan, mulai dari bagaimana iklim dan suasana kota memengaruhi gaya pengambilan gambar (visual), hingga tantangan teknis dalam menyatukan dua gaya narasi yang berbeda.
”Kegiatan ini bukan hanya soal menonton film, tapi tentang menciptakan forum dialog budaya dan akademik dalam satu ruang kolaboratif yang inklusif,” ungkap Prof. Dr. Astrid.











