Untuk diketahui, aksi massa AMPT non LSM ini merupakan aksi lanjutan setelah Rabu lalu mereka tidak ditemui Bupati. Namun lagi-lagi aksi siang tadi juga demikian. Mereka kembali dilecehkan oleh Ipong. Ipong hanya mau menemui massa AMPT di Pendopo Kabupaten. Sebelumnya, sejumlah elemen massa berjuang sendiri-sendiri menuntut keadilan dan menolak sejumlah kebijakan Bupati yang tidak pro-rakyat dan merekapun tidak pernah dianggap. Atas rasa yang sama itulah mereka meleburkan diri menjadi AMPT non LSM dan berjuang bersama-sama.
Kekecewaan dari masing-masing elemen masyarakat yang berlanjut hingga ke AMPT inilah yang mendorong mereka sepakat menuntut Bupati Ipong mundur karena dinilai tidak mampu memimpin rakyat Ponorogo, tidak mampu memberi rasa aman dan rasa nyaman kepada masyarakat Ponorogo.

“Kalau dia mampu memimpin, aksi-aksi semacam ini tidak akan terjadi. Ini merupakan ungkapan kekecewaann kami atas kepemimpinannya yang arogan dan tidak pro-rakyat,” jelas Didik.
AMPT menilai, sejumlah kebijakan Bupati yang tidak pro-rakyat diantaranya larangan bentor beroperasi, relokasi PKL tanpa perda yang jelas, warga Bendo Sawoo diusir paksa dari tempat tinggalnya, penghentian pembangunan pasar eks-stasiun serta pendirian pabrik gamping di Sampung. Selain sejumlah persoalan tersebut, Bupati dianggap cuek dengan banyaknya keluhan jalan rusak di beberapa desa di Ponorogo. (das)
Baca juga:












