Mas Dhito Beri Program Pelatihan dan Pemasaran Secara Digital ke UMKM di Masa Pandemi

oleh -

Kediri, ArahJatim.com – Calon Bupati Kediri, Hanindhito Himawan Pramana, kali ini blusukan ke Pasar Tawang Purwoasri (27/10). Banyak keluhan disampaikan para pedagang, di antaranya, jika musim hujan, air meluber masuk menggenangi pasar.

Cabup yang akrab disapa Dhito ini menuturkan, Pasar Tawang sering kebanjiran kala musim hujan. Hal ini berarti Pasar Tawang perlu diperbaiki atau dipindah lokasinya, ini yang masih dikaji para ahli.

“Pasar itu tidak boleh terdampak banjir, karena ini berkaitan dengan higienis tempat distribusi barang-barang yang akan dikonsumsi masyarakat, ujar putra Mensesneg Pramono Anung itu.

Lebih lanjut Dhito mengungkapkan, di Kabupaten Kediri terdapat 14 pasar. Yang sudah direvitalisasi sebanyak tujuh pasar, salah satunya Pasar Gringging. Nanti, akan kita diskusikan dengan ahlinya, karena biasanya pedagang pasar tidak ingin dipindah terlalu jauh. Ini yang menjadi kendala.

Usai blusukan di Pasar Tawang Purwoasri, Dhito kemudian menyambangi pelaku usaha Sambel Pecel Puli Jawa yang berada di Desa Jantok Kecamatan Purwoasri Kabupaten Kediri, Jawa Timur.

Kunjungan ini untuk melihat perkembangan produk Sambel Pecel Puli Jawa. Karena pada saat pandemi ini mereka mengalami kendala dalam pemasaran, bahkan mengalami penurunan produksi hingga 60 persen. Biasanya omzetnya mencapai Rp50 juta per bulan. Namun di masa pandemi ini, sangat berat, hanya Rp15 juta per bulan.

“Kalau pemasaran seharusnya bisa dipasarkan melalui (cara) digital ataupun kepada reseller. Kami akan mencari solusinya berupa pelatihan dan pemasaran secara digital agar mereka tetap stabil seperti sebelumnya,” ujar bapak satu anak ini

Dhito menambahkan kita akan memberikan pelatihan Strengths (kekuatan), Weaknesses (kelemahan), Opportunities (peluang), dan Threats (ancaman) atau SWOT. Nanti akan kita pisahkan, mana UMKM yang belum potensial, sudah potensial dan UMKM yang sudah maju.

“Dari sisi pengemasan sudah cukup bagus untuk sambel pecel Puli Jawa ini sangat baik, karena produknya sudah masuk di luar kota. Seperti Jakarta, Malang, dan sebagainya. Dengan adanya pengiriman dari luar kota mungkin peminatnya sangat banyak dan produknya bagus,” ucapnya.

Dhito berharap produk UMKM ini tetap berjalan terus dan kita akan membantu dalam sistem pemasaran.

Sementara itu, Slamet Wahyudin selaku pemilik usaha sambel pecel Puli Jawa menuturkan, memang selama pandemi ini ada kendala, namun pihaknya akan terus memberikan yang terbaik dan berusaha untuk terus memasarkan. Selain itu ia juga akan mempelajari pemasaran secara online agar pemasaran produknya makin luas.

“Kami berharap dengan adanya kunjungan Mas Dhito sangat terbantu sekali. Beliau memberikan ilmu kepada kami dan akan membantu dalam pemasaran,” tuturnya.

Dari Desa Jantok Dhito melanjutkan blusukan ke sentra kelambu di Desa Blawe Kecamatan Purwoasri Kabupaten Kediri. Menurut Dhito keluhan dari pelaku usaha korden hampir sama dengan pelaku usaha sambel pecel di Desa Jantok.

Dhito sangat senang, di Kabupaten Kediri, masing-masing desa memiliki produk usaha unggulan. Dhito mencontohkan, di Desa Jantok ada sambel pecel puli, di Desa Ngadiluwih ada tanaman hias dan Desa Blawe spesialis korden atau kelambu.

“Kami sudah menyerap semua keluhan para pelaku usaha. Namun kami tidak akan memberikan ikannya tapi kami akan memberikan kailnya, agar ke depan para pelaku usaha bisa lebih maju dan berkembang,” imbuh Dhito. (das)