Kediri, ArahJatim.com – Di tengah meningkatnya kasus malnutrisi dan naiknya harga bahan pangan, seorang mahasiswa di Kediri menghadirkan solusi sederhana namun bermakna.
Ditemui di rumahnya M Zidan, Jalan masjid arrobitoh , desa kerkep kec gurah, mahasiswa semester 3 Kampus UNP Kediri, memperkenalkan menu Ayam Goreng Bawang yang kaya rempah Nusantara dan ramah di kantong, Kamis (1/1/2026).
Berangkat dari kepeduliannya terhadap masalah gizi, Zidan meramu ayam goreng dengan sentuhan lengkuas dan bawang putih yang kuat, menghasilkan aroma khas serta cita rasa Indonesia yang kental. Menu ini diharapkan dapat menjadi alternatif makanan sehat yang bisa dikonsumsi semua kalangan.
Ciri Khas Aroma Bawang dan Lengkuas
Zidan menjelaskan, keunggulan utama Ayam Goreng Bawang terletak pada aromanya. Wangi bawang yang dominan berpadu dengan aroma manis khas lengkuas, menciptakan sensasi yang menggugah selera sejak pertama kali disajikan.
Menurutnya, ayam goreng sebenarnya bukan menu yang sulit dibuat. Hampir semua orang bisa memasak ayam goreng. Namun yang membedakan produknya adalah keberanian mengangkat kembali rempah-rempah Nusantara agar tetap relevan bagi generasi muda.
“Saya ingin memperkenalkan sebuah rasa, di mana anak muda tetap bisa bereksplorasi dengan rempah,” ujarnya.
Brand “Fat n Happ” dan Filosofi Perlawanan Malnutrisi
Ayam Goreng Bawang ini dipasarkan dengan nama brand Fat n Happ, yang telah berjalan sekitar satu setengah bulan. Meski terdengar unik, Zidan menjelaskan filosofi di balik nama tersebut cukup dalam.
Kata fat diartikan sebagai “gemuk yang baik”, bukan berkonotasi negatif, melainkan simbol perlawanan terhadap masalah sosial berupa malnutrisi yang masih banyak terjadi di Indonesia. Sementara happ terinspirasi dari ungkapan spontan anak-anak saat makan, sebagai simbol kegembiraan dan kecukupan pangan.
Harga Tetap Rp15 Ribu Meski Ayam Naik
Di saat harga daging ayam potong mengalami kenaikan, Zidan memilih untuk tidak menaikkan harga jual. Hingga kini, satu boks Ayam Goreng Bawang masih dibanderol Rp15.000, lengkap dengan nasi putih hangat, potongan sayur, dan ayam goreng rempah.
Ia mengakui, kenaikan harga bahan baku menjadi tantangan utama, terutama karena usahanya masih dalam tahap awal merintis. Namun, ia berkomitmen menjaga harga agar tetap terjangkau.
“Insyaallah saya usahakan harga tetap sama seperti saat harga ayam normal,” katanya.
Pesanan 25 Boks Jadi Capaian Awal
Meski masih baru, usaha kuliner ini sudah mencatatkan capaian yang cukup membanggakan. Pesanan terbesar sejauh ini datang dari organisasi masyarakat Muhammadiyah yang memesan sekitar 25 boks untuk kebutuhan konsumsi rapat.
Bagi Zidan, jumlah tersebut memang belum sebanding dengan brand besar, namun sudah menjadi pencapaian penting untuk sebuah startup kuliner yang baru berjalan.
Manfaatkan Media Sosial dan GrabFood
Sebagai bagian dari Generasi Z, Zidan memaksimalkan jaringan pertemanan dan media sosial sebagai sarana pemasaran. Saat ini, pemasaran produknya masih terbatas di lingkungan teman dan media sosial, khususnya di wilayah Kediri, serta melalui platform digital seperti GrabFood.
Ke depan, ia berharap jangkauan pasarnya semakin luas dan mampu membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar. Untuk saat ini, seluruh proses produksi masih ia kerjakan sendiri. (das)





