Jumlah Kasus Corona Meningkat Drastis Dalam Seminggu Terakhir, Epidemiolog : Tidak Mengejutkan

oleh -

Surabaya, Arajatim.com – Bertambahnya pasien kasus virus corona di seluruh dunia masih terus terjadi. Secara global, di seluruh dunia tercatat ada 1.607.595 kasus, dengan jumlah kematian sebanyak 95.785 dan yang telah sembuh sebanyak 357.164. Menurut data dari Worldometers, (10/4/2020). Angka tersebut mengalami peningkatan yang cukup signifikan, terutama dalam sepekan terakhir. Jika melihat data pada Jumat (3/4/2020), jumlah pasien kasus corona di dunia masih berada di angka 1.018.845 kasus. Dengan demikian terdapat peningkatan hampir 600.000 kasus hanya dalam rentan waktu satu pecan saja.

Pasien corona diprediksi masih akan meningkat, mengingat statistik yang ada secara global masih menunjukan kenaikan jumlah pasien.

Mengenai kondisi itu, Epidemiolog Indonesia kandidat doktor dari Griffith University Australia, Dicky Budiman mengatakan bahwa terjadinya tren kenaikan jumlah kasus lebih dari setengah juta dalam seminggu tidak mengejutkan.

Secara global, sesuai prediksi tren masih akan meningkat mengingat angka reproduksi (Ro) dari covid masih di atas 1. Penyumbang terbesar saat ini memang dari Amerika Serikat, karena peningkatan cakupan tes yang masif,” kata Dicky dikutip dari Kompas.com, Jumat (10/4/2020).

Epidemiolog yang sebelumnya ikut dalam tim penanganan virus flu burung di Indonesia itu, menambahkan bahwa angka pertambahan secara global masih akan terjadi sampai semua negara mengalami puncak gelombang pertama. Selain itu, kemungkinan terjadinya gelombang kedua juga sangat dimungkinkan, mengingat sifat dari virus dengan nama resmi SARS-CoV-2 ini yang merupakan virus jenis baru bagi manusia. Sehingga virus corona masih bisa berpotensi menginfeksi banyak orang karena proses kekebalan yang belum terbentuk terhadap virus baru ini.

Dasarnya adalah, Ro (angka reproduksi)-nya yang kemungkinan di Indonesia di antara 2 dan 3, atau satu pasien berpotensi menularkan virus corona ke 2 atau 3 orang lainnya. “Sehingga dengan pola penambahan eksponensial ini, kita bisa perkirakan penambahan dalam setiap harinya,” papar Dicky.

Angka tersebut diambil dari data/penelitian pola dan kecepatan penyebaran virus corona di China. Angka Ro atau angka reproduksi ini dapat dijadikan pijakan dalam proyeksi kasus harian. “Sehingga ketika angka yang didapat tidak sesuai, kita bisa curiga bahwa tes yang kita lakukan kurang banyak,” paparnya.

Waktu penggandaan atau doubling time Dalam ilmu epidemiologi, laju kenaikan kasus menyatakan seberapa besar kasus itu meningkat dalam suatu periode waktu tertentu. Misalnya, jumlah kasus baru meningkat dua kali lipat dalam waktu satu minggu (waktu penggandaan, doubling time). Tanpa ada pembatasan yang ketat, pertumbuhan jumlah pasien karena penularan virus adalah eksponensial. Artinya untuk tiap periode waktu yang sama terlewatkan, jumlah pasien menjadi N kali jumlah pasien sebelumnya.

Misalnya, jika jumlah pasien meningkat 2x setiap hari–setiap satu pasien menularkan ke dua orang–maka jumlah pasien pada hari pertama hingga hari ke-7 adalah: 1, 2, 4, 8, 16, 32, 64.  Meskipun tren kenaikkan kasus virus corona semakin meningkat, di sisi lain Dicky menilai, kenaikan tren ini bisa dilihat sisi positifnya.

“Karena semakin kita perbanyak tes dan ketahui orang yang positif maka kita juga bisa mencegah kematian lebih dini dan juga melakukan tindakan isolasi untuk mencegah potensi penularan,” jelas Dicky.

Tes masih rendah

Melansir Ourworldindata (10/4/2020) rasio tes Indonesia baru berkisar 5 tes per 100.000 penduduk, atau 65 per 1 juta penduduk jika mengutip data Worldometers.  “Idealnya kita bisa melakukan tes di angka 1.000 per 100.000 penduduk,” terang Dicky.

Karena itu pihaknya menyarankan penggunaan rapid test yang sesuai dengan rekomendasi WHO sebagai screening awal. Pelaksanaan rapid test bisa dilakukan di setiap lokasi strategis, terutama di kabupaten/kota yang diduga memiliki kasus tinggi.

“Untuk saat ini seluruh Jawa dan Bali harus dilakukan (tes) masif,” kata Dicky. Prosedur pelaksanaannya bisa meniru cara yang dilakukan Korea Selatan, dengan menyediakan titik-titik lokasi tes yang mudah diakses masyarakat. Dicky mewanti-wanti pentingnya tes masif ini.

“Tanpa adanya tes yang masif maka tidak akan diketahui penambahan kasus yang signifikan. namun yang akan terjadi dan terlihat adalah besarnya angka kesakitan/kunjungan ke rumah sakit dan juga kematian yang tidak jelas penyebabnya.” kata Dicky.