Jakarta, Arahjatim.com – Hari Anak Nasional digagas pertama kali oleh Presiden kedua Republik Indonesia, Soeharto pada tahun 1984. Kala itu, ia menilai anak-anak merupakan aset kemajuan bangsa sehingga perlu diberi hari peringatan.
Tema Hari Anak Nasional berbeda setiap tahunnya. Tahun 2020, tema yang diangkat dari Hari Anak Nasional adalah ‘Anak Terlindungi, Indonesia Maju’. Adapun tagline yang digunakan adalah #AnakIndonesiaGembiraDiRumah.
Kali ini diskusi anak yang diselenggarakan atas inisiatif beberapa lembaga maupun komunitas, diantaranya : Komunitas Literasi Gizi (Koalizi), Yayasan Gerakan Masyarakat Sadar Gizi, Literasi Sehat Indonesia (LiSan), Dep. Kesehatan BPP. KKSS, Bakornas LKMI PB. HMI dan, www.sadargizi.com.
Acara yang bertemakan gizi dan sehat untuk anak Indonesia itu diadakan selama empat pekan lamanya bertujuan untuk mencari solusi atas apa yang terjadi selama ini kepada anak-anak. Permasalahan gizi dan kesehatan selama ini menjadi titik concern bagi sebagian kalangan, Ini karena tingginya gizi buruk dan kesehatan yang mengakibatkan pada lemahnya mental pada anak.
“Kita saling saling mendengar dan menyampaikan pendapat secara terbuka, tanpa ada yang merasa pendapatnya paling benar. Genap empat pekan bukan berarti bahwa semua masalah anak telah terselesaikan. Kami yang berusaha mendiskusi bahagian kecil dari sekian banyak masalah anak di Indonesia maupun di dunia. Itu pun hanya sekitar masalah kesehatan dan gizi,” kata dr. Zaenal Abidin selaku inisiator diskusi.
Diskusi dilakukan berdasarkan kelompok usia dengan pertimbangan bahwa setiap kelompok usia anak memiliki masalah dan solusinya sendiri. Karena itu kelompok dibagi dengan rentang usia mulai dari usia 0-2 tahun, usia 3-5 tahun, usia 6-9 tahun dan, dan usia 10-19 tahun.
Salah satu narasumber diskusi, Wahyu Aulizalsini A, M.Psi yang mengusung judul Jati Diri dan Pergaulan Remaja menyatakan, remaja adalah generasi penerus yang akan membangun bangsa ke arah yang lebih baik yang mempunyai pemikiran jauh ke depan dan kegiatannya yang dapat menguntungkan diri sendiri, keluarga, dan lingkungan sekitar. Maka, remaja tersebut harus mendapatkan perhatian khusus, baik oleh dirinya sendiri, orang tua, dan masyarakat sekitar.
Data survey kominfo ditahun 2017 bahwa 60% pengguna gadget adalah anak usia 9 – 19 tahun. Dari urusan gadget tersebut pun selain hal positif, kasus negative tentang kenakalan dan kasus-kasus negative di masa remaja juga banyak disebabkan oleh gadget.
“Jika dicari akar masalahnya maka dapat saya sampaikan bahwa konsep diri seorang individu menjadi satu masalah penting untuk memunculkan perilaku positif,” jelasnya.
Sementara itu, Muhammad Rhesa, S.Psi., M.A yang membahas Perkembangan Psikososial Remaja juga mengatakan bahwa masa remaja yang berada pada rentang usia 10 sampai 21 tahun adalah salah satu fase terpenting dalam kehidupan manusia. Masa remaja ditandai dengan perubahan yang cukup drastis pada aspek biologis, kognitif, dan sosial-emosional. Masa remaja adalah fase ketika seseorang mengalami krisis identitas di masa hidupnya.
Perpindahan dari masa anak-anak ke masa dewasa menjadikan masa remaja semacam fase peralihan. Remaja beralih dari kontrol penuh orang tua menuju pelepasan peran orang tua secara perlahan dan lebih menyenangi aktivitas bersama teman sebayanya.
“Identitas emosi remaja akan mengalami kematangan di masa remaja akhir, 19-21 tahun, setelah melewati fase-fase labil di remaja awal dan remaja tengah,” paparnya.
Pada pembahasan yang berbeda perihal Dampak Anemia pada Anak Remaja/Pubertas, dr. Tirta Prawita Sari, M.Sc., Sp.GK juga memeberikan pandangannya terkait masalah gizi di Indonesia. Menurutnya, masalah gizi utama di Indonesia saat ini adalah stunting, yakni 30,8%.
“Stunting menggambarkan banyak hal, antara lain: terjadinya asupan gizi yang tidak adekuat dalam waktu lama, faktor lngkungan penderita serta keterkaitan yang adekuat, memberi dampak jangka pendek yang signifikan sehingga keterlambatan intervensi akan berakibat permanen. Stunting juga memberi dampak jangka panjang sehingga dengan intervensi yang cepat dan tepat akan sangat efisien dan efektif menyelesaikan masalah” ungkapnya. (*)











