Kediri, ArahJatim.com — Setiap tanggal 25 November tiba, Ketua Fraksi Partai Golkar DPRD Kota Kediri, Imam W. Zarkasyi, ST., MM, kembali mengenang perjalanan panjang para guru dalam membentuk karakter bangsa. Ingatan masa kecilnya tentang aroma kapur tulis, kertas ujian, hingga lembaran buram untuk latihan berhitung menjadi pintu masuk untuk merefleksikan kembali esensi profesi guru yang diwarisi dari keluarga pendidik.
“Saya ditakdirkan tumbuh dari rahim pendidikan,” ujarnya mengenang kedua orang tuanya yang berprofesi sebagai guru. Ibunya seorang guru Madrasah/SD, ayahnya PNS yang selepas jam kantor masih mengajar di sekolah menengah. Lingkungannya adalah lingkungan guru—paman, bibi, hingga keluarga besar yang sebagian besar berprofesi sebagai pendidik. Bahkan setelah menikah, ia kembali dikelilingi oleh mertua yang juga guru. “Dari merekalah saya belajar bahwa profesi guru bukan sekadar pekerjaan, tetapi panggilan jiwa untuk menyalakan cahaya di tengah kegelapan zaman.”
Dalam kesederhanaan keseharian sang ibu—menyiapkan bahan ajar, membagi hasil koreksian, sambil memasak sarapan—Imam melihat wajah sejati pendidikan Indonesia: dedikasi tanpa pamrih dan semangat tanpa batas.
Guru, Arsitek Peradaban
Menurut Imam, guru adalah pilar utama pembangunan bangsa dan arsitek peradaban. Bangunan Indonesia yang kuat tidak hanya bertumpu pada infrastruktur fisik, tetapi pada karakter dan kualitas SDM. Ia mengutip pemikiran Ki Hajar Dewantara, “Guru adalah pemimpin di kelas, bukan hanya pengajar tetapi pembimbing jiwa.”
“Guru membentuk integritas, kejujuran, tanggung jawab, dan cinta tanah air. Mereka tidak hanya mentransfer ilmu, tetapi membentuk karakter dan moral generasi mendatang,” tuturnya.
Tantangan Guru di Era Disrupsi
Memasuki era digital, tekanan terhadap guru semakin kompleks. Guru tidak lagi cukup menguasai materi, tetapi juga harus adaptif terhadap teknologi dan perubahan zaman. Data Kemendikbudristek 2024 menunjukkan bahwa masih ada lebih dari 2,8 juta guru yang membutuhkan peningkatan kompetensi digital dan pedagogis.
“Guru hari ini menjadi jembatan antara nilai masa lalu dan masa depan. Mereka harus kreatif, menguasai teknologi, sekaligus menjaga nilai-nilai kemanusiaan agar tidak hilang dalam pusaran digitalisasi,” jelasnya.
Indonesia Emas 2045: SDM Jadi Kunci
Imam W. Zarkasyi menegaskan bahwa visi Indonesia Emas 2045 hanya akan terwujud bila kualitas pendidikan—terutama guru—diperkuat. Ia menyoroti fakta bahwa tingkat pendidikan tinggi masyarakat Indonesia masih rendah.
“Hanya sekitar 10–12% tenaga kerja Indonesia yang berlatar pendidikan tinggi. Itu jauh di bawah negara maju seperti Korea Selatan atau Finlandia yang mencapai lebih dari 40%,” ungkapnya.
Kesenjangan tersebut menjadi alarm bahwa pondasi SDM harus diperkuat dari ruang kelas dasar dan menengah—yang sepenuhnya berada di tangan para guru.
Profesionalitas & Kesejahteraan Guru Harus Jadi Prioritas
Imam menegaskan bahwa guru harus ditempatkan sebagai profesi terhormat yang menjadi prioritas dalam kebijakan publik.
“Negara-negara maju menempatkan guru dalam posisi bergengsi. Finlandia bahkan menempatkan profesi guru sebagai profesi paling dihormati setelah dokter. Kita harus belajar dari itu,” paparnya.
Menurutnya, guru bukan hanya pelaksana kurikulum, tetapi agen perubahan sosial yang menentukan arah masa depan bangsa.
Warisan Nilai yang Abadi
Imam mengenang pesan ayahnya yang selalu terpatri dalam ingatannya:
“Kami mungkin tidak akan kaya, tetapi murid-murid kami bisa menjadi pemimpin yang mengubah dunia.”
Kini, ia melihat pesan itu benar-benar terwujud. Banyak murid orang tuanya yang tumbuh menjadi dokter, insinyur, pejabat, pengusaha, hingga pendidik—mereka membawa nilai-nilai yang ditanamkan dengan keteladanan.
“Guru adalah perpanjangan tangan Tuhan. Dampak pekerjaannya mungkin tidak terlihat hari ini, tetapi terasa lintas generasi,” katanya.
Meneguhkan Komitmen Kebangsaan
Dalam momentum Hari Guru Nasional 2025 ini, Imam mengajak semua pihak untuk memastikan bahwa guru diberikan tempat terhormat dalam kebijakan maupun perhatian nasional.
“Berbicara tentang Indonesia Emas 2045 berarti berbicara tentang hasil kerja panjang para guru hari ini. Mustahil kita menjadi negara maju tanpa guru yang kuat dan sejahtera,” tegasnya.
Penutup
Imam menutup refleksi Hari Guru Nasional dengan pesan mendalam:
“Guru adalah mata air yang tidak pernah kering. Di zaman apa pun, mereka tetap menjadi sumber inspirasi dan penopang harapan. Meneguhkan peran guru berarti meneguhkan masa depan bangsa.”
Selamat Hari Guru Nasional 2025.
Semoga setiap peluh, pengabdian, dan doa para guru menjadi cahaya penerang menuju Indonesia Emas 2045—Indonesia yang berilmu, berakhlak, dan berkeadaban.











