Kediri, ArahJatim.com – Ada pemandangan berbeda di kawasan Kali Kedak, Kelurahan Bujel, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri pada Jum’at pagi (26/6/2026). Ratusan orang berkumpul dengan semangat membara, membawa komitmen yang sama: mengembalikan denyut nadi kehidupan sungai yang tengah sakit.
Momen ini menandai peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 di Kota Kediri, yang mengusung tema kuat, “Saatnya Bekerja untuk Iklim.”
Dari Balai Kota, Mengayuh Sepeda Demi Bumi
Aksi nyata ini dimulai sejak matahari belum meninggi. Wali Kota Kediri, Vinanda Prameswati atau yang akrab disapa Mbak Vinanda, memimpin apel persiapan di halaman Balai Kota. Usai memberikan arahan, ia tidak memilih duduk di dalam mobil dinas yang nyaman. Sebaliknya, Mbak Vinanda langsung menaiki sepedanya, mengayuh pedal membelah jalanan kota menuju lokasi aksi di Kali Kedak.
Aksi bersepeda ini bukan sekadar seremonial, melainkan pesan simbolis yang kuat tentang pengurangan emisi karbon dan gaya hidup ramah lingkungan yang harus dimulai dari diri sendiri.
Ribuan Ikan Tawas dan Asa Baru untuk Kali Kedak
Setibanya di Kali Kedak, suasana langsung semarak. Didampingi Wakil Wali Kota Kediri, Gus Qowim, jajaran pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD), serta elemen masyarakat, Mbak Vinanda langsung turun ke dekat aliran air.
Agenda pertama dimulai dengan pelepasan ribuan bibit ikan tawas ke aliran sungai. Kegiatan restocking ini diharapkan mampu mengembalikan ekosistem air sungai yang sempat terganggu. Menariknya, pasokan bibit ikan tawes kali ini didapat dari dukungan penuh teman-teman komunitas Wild Water Indonesia (WWI). Ikan-ikan kecil yang berenang bebas itu seolah menjadi simbol harapan baru bagi kelestarian lingkungan di Kota Kediri.
”Hari ini kita kerja bakti bersama-sama untuk membangkitkan kembali kesehatan dari sungai,” ujar Mbak Vinanda dengan penuh semangat di sela-sela kegiatan.
Kolaborasi Massal 700 Personil “Kediri River Expedition”
Aksi resik-resik sungai ini tidak berjalan sendirian. Pemerintah Kota Kediri melalui Dinas Lingkungan Hidup, Kebersihan, dan Pertamanan (DLHKP) merajut kolaborasi besar yang dikemas dalam tajuk Kediri River Expedition.
Kepala Dinas DLHKP Kota Kediri, Indun Munawaroh, S.STP, menjelaskan bahwa gerakan masif ini berhasil menggerakkan ratusan pasang tangan yang peduli pada masa depan bumi.
”Hari ini kita melibatkan kurang lebih 700 personil yang terdiri dari OPD, kampus, relawan, penggerak lingkungan, hingga dukungan bibit ikan dari teman-teman WWI. Kolaborasinya sejauh ini sudah cukup baik,” ungkap Indun saat ditemui di lokasi aksi.
Melalui gerakan Kediri River Expedition yang menggandeng PT Gudang Garam Tbk, dan Universitas Nusantara PGRI (UNP) Kediri ini, DLHKP ingin memberikan edukasi nyata lewat contoh-contoh sederhana.
”Kita pengen mengedukasi masyarakat, memberikan contoh baik bahwa seperti yang disampaikan Mbak Wali, kita tidak perlu langkah-langkah besar, tetapi cukup langkah-langkah kecil yang kita wujudkan menjadi kenyataan. Semoga minimal masyarakat tergerak untuk tidak membuang sampah di sungai,” tambah Indun.
Respons Cepat Atas Kondisi Sungai yang Kurang Sehat
Langkah taktis yang diambil Pemerintah Kota Kediri ini didasarkan pada data riil di lapangan. Mbak Vinanda mengungkapkan bahwa aksi bersih-bersih ini merupakan respons langsung dari hasil ekspedisi yang sebelumnya dilakukan di enam titik sungai.
Dari hasil ekspedisi tersebut, ditemukan fakta bahwa seluruh titik sungai yang diperiksa telah mengalami pencemaran, dengan kategori tercemar sedang hingga tercemar berat. Kali Kedak sendiri masuk dalam kategori tercemar sedang.
”Sungai Kedak ini tergolong sebagai kategori yang tercemar sedang. Oleh karena itu, kita ingin berupaya untuk mengembalikan kesehatan sungai. Kita kerja bakti membersihkan lingkungan di daerah sungai karena ini sangat penting sekali. Jangan sampai nanti masyarakat yang kehidupan sehari-harinya dari sungai terpengaruh kondisi kesehatannya karena sungainya tercemar,” jelas Mbak Vinanda secara humanis.
Senada dengan Wali Kota, Indun Munawaroh juga membenarkan bahwa kualitas air di enam sungai Kota Kediri saat ini posisinya memang masih jauh dari baku mutu alias kurang sehat. Oleh karena itu, Pemkot Kediri tidak akan berhenti pada aksi seremonial hari ini saja.
”Makanya nanti ada langkah-langkah tindak lanjut yang akan kita rumuskan bersama teman-teman akademisi dari UNP. Kita akan kaji apa saja hal yang harus dilakukan ke depan untuk meningkatkan kualitas air sungai di Kota Kediri, terutama di enam sungai yang sudah diekspedisi oleh teman-teman Radar,” pungkas Indun.
Membangun Kesadaran dan Komitmen Bersama
Lebih dari sekadar membersihkan sampah fisik yang menyumbat aliran air, aksi ini diharapkan mampu menyentuh kesadaran terdalam warga Kota Kediri, khususnya yang tinggal di sepanjang aliran sungai.
Ada dua harapan besar yang ditekankan untuk masa depan lingkungan Kediri:
- Meningkatkan Kesadaran Warga: Masyarakat diimbau keras untuk tidak lagi menjadikan sungai sebagai tempat pembuangan sampah akhir.
- Komitmen Merawat Kelestarian: Menjadikan momentum Hari Lingkungan Hidup 2026 sebagai pemantik komitmen bersama antara pemerintah, swasta, akademisi, dan warga dalam menjaga ekosistem sungai secara berkelanjutan.
Peringatan Hari Lingkungan Hidup 2026 di Kota Kediri hari ini menjadi bukti nyata bahwa urusan iklim dan lingkungan bukan lagi sekadar wacana di atas kertas, melainkan kerja bersama yang dimulai dari langkah kaki, kayuhan sepeda, dan kepedulian tangan-tangan masyarakatnya. (das)










